oleh Budi Rahardjo aka Mr. GBT.
Dalam masa kampanya calon presiden dan calon wakil presiden, beberapa orang dari komunitas IT Indonesia mencoba menggali visi IT dari tim sukses capres/cawapres. Hasilnya ternyata mengecewakan. Tidak ada satupun yang tertarik. Rekan-rekan ini kemudian kecewa. Saya tidak!
Banyak orang yang beranggapan bahwa IT itu adalah Internet dan Internet adalah IT. Tentu saja ini tidak benar, meskipun konotasi bahwa IT itu sama dengan Internet memang kental sekali. Maklum, Internet merupakan salah satu indikator yang paling populer. Rekan-rekan IT ini kecewa bahwa para capres ini tidak tertarik kepada dunia IT. Jangan salah, situs web untuk para capres ini memang ada. Akan tetapi mereka tidak responsif jika dihubungi melalui email.
Sebetulnya apa yang diharapkan dari rekan-rekan IT? Apakah para capres, atau sedikitnya tim suksesnya?, bisa berkomunikasi melalui e-mail? Apakah harus demikian? Saya melihat bahwa rekan-rekan IT menganggap bahwa kalau seseorang tidak menggunakan email maka dia tidak ada (exist) di dunia IT. Saya kira ini harapa yang terlalu berlebihan. Setiap orang tentunya berhak memilih media komunikasi yang dia inginkan. Mungkin dia lebih suka menggunakan SMS, yang sebetulnya merupakan implementasi IT juga.
Kalau ini saya analogikan, mungkin sama dengan penilaian saya terhadap istilah "pakar IT". Dalam bayangan saya, yang namanya pakar IT tentu mahir menggunakan email, browsing Internet, dan punya homepage yang aktif. Yang terakhir ini mungkin harapan yang berlebihan dari saya, seperti harapan rekan-rekan bahwa capres dan timnya harus menggunakan email. Dalam bayangan saya, seseorang tidak dapat disebut pakar IT/Internet kalau tidak punya homepage yang aktif. Saat ini sepengetahuan saya "pakar IT" kebanyakan hanya menggunakan email saja. Kalau sekedar email, nenek-nenek juga bisa. Mereka tidak layak disebut "pakar".
Kalau anda tidak sepakat dengan opini saya ini, ya tentunya para capres dan timnya juga tidak perlu sepakat dengan tolok ukur anda. Dalam pemikiran mereka, mereka sudah IT-minded. Just not the Internet. So leave us (capres and team) alone, will you?
Friday, June 18, 2004
Saturday, June 12, 2004
'Pick and Drop' cara baru untuk bertukar informasi
oleh Budi Rahardjo aka Mr. GBT
Bagi kita yang sudah terbiasa menggunakan komputer yang berbasis grafis semestinya sudah terbiasa dengan menggunakan cara 'cut' dan 'paste'. Cara ini menggunakan metafora konvensional yang berbasiskan media kertas. Kita gunting dan tempel.
Saat ini ada penelitian baru dengan metafora baru, yaitu kita ambil (pick) dan letakkan (drop). Cara ini dapat dilakukan antar alat (devices). Misalnya, saya bisa mengambil (pick) sebuah berkas di PDA saya dengan menggunakan sebuah digital pen khusus kemudian saya letakkan (drop) di layar notebook anda. Maka berkas tersebut sudah ter-copy ke notebook anda. Intuitif bukan? Kalau dengan metoda lama, kita harus melakukan proses tersebut dari sebuah device. Misalnya, PDA saya harus disambungkan ke notebook anda, kemudian dijalankan file sharing (atau PDA saya kemudian muncul sebagai disk di notebook anda), baru kemudian berkas dari PDA saya bisa di-copy ke notebook anda. Ribet betul.
Cara baru ini menggunakan digital pen khusus yang dikenali oleh beberapa devices. Masih belum jelas mekanisme komunikasinya, apakah dengan menggunakan protokol wireless yang sudah ada (bluetooth, misalnya) atau protokol baru. Sony sebagai motor dari penelitian ini masih mengembangkan teknologi ini.
Cara baru, pick and drop, ini diperkirakan akan banyak digunakan di kemudian hari mengingat semakin banyak perangkat digital yang digunakan orang. Cara ini juga akan membuka aplikasi-aplikasi baru. Saya sudah terbayang, untuk mengambil sebuah berkas dari notebook anda tidak perlu lagi saya pasangkan USB flash disk saya ke port USB di notebook anda. Cukup saya pick berkas yang saya inginkan dengan flash disk saya (yang mungkin bentuknya seperti digital pen). Ruarrrr biasa ...
Nah, sekarang tinggal menunggu killer application dari cara baru ini.
Bacaan tentang pick and drop ini bisa dilihat di sini:
Bagi kita yang sudah terbiasa menggunakan komputer yang berbasis grafis semestinya sudah terbiasa dengan menggunakan cara 'cut' dan 'paste'. Cara ini menggunakan metafora konvensional yang berbasiskan media kertas. Kita gunting dan tempel.
Saat ini ada penelitian baru dengan metafora baru, yaitu kita ambil (pick) dan letakkan (drop). Cara ini dapat dilakukan antar alat (devices). Misalnya, saya bisa mengambil (pick) sebuah berkas di PDA saya dengan menggunakan sebuah digital pen khusus kemudian saya letakkan (drop) di layar notebook anda. Maka berkas tersebut sudah ter-copy ke notebook anda. Intuitif bukan? Kalau dengan metoda lama, kita harus melakukan proses tersebut dari sebuah device. Misalnya, PDA saya harus disambungkan ke notebook anda, kemudian dijalankan file sharing (atau PDA saya kemudian muncul sebagai disk di notebook anda), baru kemudian berkas dari PDA saya bisa di-copy ke notebook anda. Ribet betul.
Cara baru ini menggunakan digital pen khusus yang dikenali oleh beberapa devices. Masih belum jelas mekanisme komunikasinya, apakah dengan menggunakan protokol wireless yang sudah ada (bluetooth, misalnya) atau protokol baru. Sony sebagai motor dari penelitian ini masih mengembangkan teknologi ini.
Cara baru, pick and drop, ini diperkirakan akan banyak digunakan di kemudian hari mengingat semakin banyak perangkat digital yang digunakan orang. Cara ini juga akan membuka aplikasi-aplikasi baru. Saya sudah terbayang, untuk mengambil sebuah berkas dari notebook anda tidak perlu lagi saya pasangkan USB flash disk saya ke port USB di notebook anda. Cukup saya pick berkas yang saya inginkan dengan flash disk saya (yang mungkin bentuknya seperti digital pen). Ruarrrr biasa ...
Nah, sekarang tinggal menunggu killer application dari cara baru ini.
Bacaan tentang pick and drop ini bisa dilihat di sini:
- Artikel di BBC News
- Jun Rekimoto, pimpinan penelitian ini di Sony CSL.
- Artikel di Slashdot
Thursday, June 10, 2004
Lokalisasi Windows XP, Proyek Sekedar Kosmetik ?
Dua tahun belakangan ini Microsoft gencar melokalisasikan peranti lunaknya--terutama sistem operasi--ke dalam berbagai bahasa. Khusus di Asia Tenggara, setelah Windows XP hadir dalam bahasa lokal Thailand dan Melayu di Malaysia, Microsoft segera merilis versi Bahasa Indonesia.
Pemanfaatan bahasa lokal memang menjanjikan kemudahan dalam mengoperasikan software. Namun lokalisasi bisa jadi menandakan perubahan strategi Microsoft yang selama ini berpegang teguh pada kebijakan harga tunggal.
Di beberapa negara yang termasuk dalam emerging market, kebijakan harga tunggal itu tampak menyulitkan Microsoft menembus pasar. Di Indonesia, Microsoft dihadapkan pada keterbatasan daya beli yang menyuburkan peranti lunak bajakan. Walaupun UU Hak Cipta diberlakukan sejak pertengahan tahun lalu, isu harga yang kelewat mahal masih menjadi beban di segmen komersial (perusahaan).
Belakangan ini, Microsoft juga mendapat saingan baru dari Linux dan peranti lunak open source. Popularitas Linux semakin tinggi terutama di segmen pendidikan. Walaupun analis berpendapat Windows masih akan mendominasi, setidaknya Linux akan mengurangi porsi Microsoft memperebutkan pasar baru yang diciptakan pergantian dari produk bajakan ke legal. Dalam beberapa hal, Linux juga mampu menjawab masalah keterbatasan daya beli.
Kondisi yang menyulitkan Microsoft itu juga membatasi daya penetrasi produsen PC yang menyediakan sistem operasi Windows dalam produknya melalui skema original equipment manufacturer (OEM). Padahal, potensi emerging market sangat menggiurkan sebab di Indonesia saja, penetrasi PC masih jauh di bawah 10%.
Microsoft bukannya tidak menyadari kendala itu. Mereka tengah merumuskan berbagai pendekatan baru untuk menggantikan skema harga tunggal terkait sulitnya menembus emerging market menggunakan strategi saat ini, seperti yang diungkapkan Martin Taylor, general manager of platform strategy Microsoft Corp. “Ini memang masalah yang sulit, dan kami hanya memiliki sedikit inisiatif berbeda yang sedang kami rumuskan,” katanya seperti dikutip CNet Asia awal Maret lalu.
Lokalisasi software
Mengubah kebijakan harga tunggal dan memberikan harga yang berbeda untuk setiap negara (atau pasar) bukan perkara gampang. Perbedaan harga akan menciptakan iklim yang tidak sehat karena pasar akan selalu mencari harga terendah, padahal produknya sama. Lokalisasi agaknya menjadi pilihan terbaik untuk membedakan dan membatasi peredaran software berdasarkan pasarnya. Artinya, Microsoft bisa memberikan harga yang berbeda untuk setiap pasar.
Microsoft membuktikan strategi harga itu pada program kepemilikan PC terjangkau di Thailand yang digelar Juni 2003. Dalam program itu, harga Windows XP versi lokal dipangkas dari US$199 menjadi US$40 sehingga harga PC bisa ditekan menjadi US$298. “Microsoft mengembangkan versi Windows XP khusus dan terbatas untuk pasar Thailand dalam program ini,” kata Andrew McBean, managing director Microsoft Thailand seperti dilaporkan Bangkok Post.
Langkah Microsoft itu berlanjut ke Malaysia melalui program PC Gemilang yang memasarkan PC dengan Windows XP berbahasa Melayu seharga US$302. Perusahaan itu tidak bersedia merinci harga satuan sistem operasi tersebut. “Kami bisa menurunkan harga sesuai pasar lokal karena software ini adalah versi lokal. Untuk versi internasional berbahasa Inggris harganya sama dan memang sulit menerapkan harga yang berbeda di satu negara,” tutur Butt Wai Choon, managing director Microsoft Malaysia kepada CNet Asia.
Setelah Thailand dan Malaysia, Microsoft dikabarkan berencana menerapkan strategi yang sama di Vietnam. Namun perusahaan itu belum bersedia memberikan informasi lebih lanjut. Selain itu, sebagai program yang baru bergulir, perlu waktu untuk mengukur efektifitas strategi lokalisasi produk Microsoft dalam membendung Linux dan open source.
Versi Indonesia
Microsoft mengembangkan Windows XP Home Edition versi Bahasa Indonesia sejak Agustus 2003 dan rencananya diluncurkan pekan ini. Namun lokalisasi ini belum seutuhnya karena hanya mengubah tampilan antar mukanya ke dalam Bahasa Indonesia. Menu-menu yang penting seperti User Assistance (Help Menu), Visual Basic Administrator (VBA), Windows Update dan Add-Ins masih menggunakan bahasa aslinya. Istilah Microsoft untuk tingkat lokalisasi paling dasar ini adalah Language Interface Pack (LIP).
Bekerja sama dengan Pusat Bahasa Depdiknas, lokalisasi Windows XP dalam bentuk LIP ini sekaligus mencanangkan pembakuan istilah-istilah teknologi ke dalam Bahasa Indonesia, seperti “tetikus” untuk mouse, “pos-el” untuk email, “wisaya” untuk wizard dan “luring” untuk offline.
Lokalisasi ini memang strategis untuk perkembangan Bahasa Indonesia di Tanah Air namun belum tentu menjawab masalah keterbatasan daya beli. Microsoft agaknya masih bersikap wait and see untuk memangkas harga Windows XP versi Bahasa Indonesia ini. “Harganya belum tentu lebih murah daripada versi internasional karena biaya pengembangan Windows XP kan pada dasarnya sama saja,” ujar Ari Kunwidodo, vice president director PT Microsoft Indonesia.
Memang saat ini belum ada alasan yang cukup kuat bagi Microsoft untuk menurunkan harga, seperti di Thailand dan Malaysia. Di kedua negara itu, tekanan Linux sangat terasa dalam program kepemilikan PC terjangkau yang digelar masing-masing pemerintah. Program di Thailand misalnya, pada awalnya hanya menyediakan PC berbasis Linux. Ternyata pesanan PC mencapai lebih dari 100.000 unit dalam beberapa pekan saja. Pilihan yang tidak bisa ditolak Microsoft, atau perusahaan itu terancam kehilangan pasar.
Sebaliknya di Indonesia, program PCRI yang rencananya menyediakan hingga 250.000 unit PC terjangkau ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Awalnya Microsoft diketahui sebagai pemasok peranti lunak namun akhirnya dibatalkan sehingga PCRI hanya tersedia dengan sistem operasi Mandrake Linux.
Kegagalan PCRI ini sedikit mengurangi Linux dan open source sebagai kekuatan penawar Microsoft. Bulan ini, Pemerintah akan mendeklarasikan program Indonesia Goes Open Source (IGOS) yang menggalakkan penggunaan peranti lunak open source di seluruh instansi, menggantikan produk bajakan Potensinya sangat besar. Dari PC saja, segmen pemerintahan saat ini mengambil porsi sekitar 15% dari total penjualan di Indonesia.
Akhirnya akan sulit bagi Microsoft untuk mempertahankan kebijakan harga tunggal di Indonesia. Lokalisasi penuh Windows XP memang strategis memberikan jalan untuk itu agar siap menghadapi kompetisi harga (yang menjadi isu utama Linux). Namun lokalisasi sebatas LIP yang lebih bernilai kosmetik saja tidak cukup. Perlu diteruskan hingga utuh dan tentunya dilanjutkan dengan kampanye pemasaran.
Deriz S. Syarief untuk Bisnis Indonesia
Pemanfaatan bahasa lokal memang menjanjikan kemudahan dalam mengoperasikan software. Namun lokalisasi bisa jadi menandakan perubahan strategi Microsoft yang selama ini berpegang teguh pada kebijakan harga tunggal.
Di beberapa negara yang termasuk dalam emerging market, kebijakan harga tunggal itu tampak menyulitkan Microsoft menembus pasar. Di Indonesia, Microsoft dihadapkan pada keterbatasan daya beli yang menyuburkan peranti lunak bajakan. Walaupun UU Hak Cipta diberlakukan sejak pertengahan tahun lalu, isu harga yang kelewat mahal masih menjadi beban di segmen komersial (perusahaan).
Belakangan ini, Microsoft juga mendapat saingan baru dari Linux dan peranti lunak open source. Popularitas Linux semakin tinggi terutama di segmen pendidikan. Walaupun analis berpendapat Windows masih akan mendominasi, setidaknya Linux akan mengurangi porsi Microsoft memperebutkan pasar baru yang diciptakan pergantian dari produk bajakan ke legal. Dalam beberapa hal, Linux juga mampu menjawab masalah keterbatasan daya beli.
Kondisi yang menyulitkan Microsoft itu juga membatasi daya penetrasi produsen PC yang menyediakan sistem operasi Windows dalam produknya melalui skema original equipment manufacturer (OEM). Padahal, potensi emerging market sangat menggiurkan sebab di Indonesia saja, penetrasi PC masih jauh di bawah 10%.
Microsoft bukannya tidak menyadari kendala itu. Mereka tengah merumuskan berbagai pendekatan baru untuk menggantikan skema harga tunggal terkait sulitnya menembus emerging market menggunakan strategi saat ini, seperti yang diungkapkan Martin Taylor, general manager of platform strategy Microsoft Corp. “Ini memang masalah yang sulit, dan kami hanya memiliki sedikit inisiatif berbeda yang sedang kami rumuskan,” katanya seperti dikutip CNet Asia awal Maret lalu.
Lokalisasi software
Mengubah kebijakan harga tunggal dan memberikan harga yang berbeda untuk setiap negara (atau pasar) bukan perkara gampang. Perbedaan harga akan menciptakan iklim yang tidak sehat karena pasar akan selalu mencari harga terendah, padahal produknya sama. Lokalisasi agaknya menjadi pilihan terbaik untuk membedakan dan membatasi peredaran software berdasarkan pasarnya. Artinya, Microsoft bisa memberikan harga yang berbeda untuk setiap pasar.
Microsoft membuktikan strategi harga itu pada program kepemilikan PC terjangkau di Thailand yang digelar Juni 2003. Dalam program itu, harga Windows XP versi lokal dipangkas dari US$199 menjadi US$40 sehingga harga PC bisa ditekan menjadi US$298. “Microsoft mengembangkan versi Windows XP khusus dan terbatas untuk pasar Thailand dalam program ini,” kata Andrew McBean, managing director Microsoft Thailand seperti dilaporkan Bangkok Post.
Langkah Microsoft itu berlanjut ke Malaysia melalui program PC Gemilang yang memasarkan PC dengan Windows XP berbahasa Melayu seharga US$302. Perusahaan itu tidak bersedia merinci harga satuan sistem operasi tersebut. “Kami bisa menurunkan harga sesuai pasar lokal karena software ini adalah versi lokal. Untuk versi internasional berbahasa Inggris harganya sama dan memang sulit menerapkan harga yang berbeda di satu negara,” tutur Butt Wai Choon, managing director Microsoft Malaysia kepada CNet Asia.
Setelah Thailand dan Malaysia, Microsoft dikabarkan berencana menerapkan strategi yang sama di Vietnam. Namun perusahaan itu belum bersedia memberikan informasi lebih lanjut. Selain itu, sebagai program yang baru bergulir, perlu waktu untuk mengukur efektifitas strategi lokalisasi produk Microsoft dalam membendung Linux dan open source.
Versi Indonesia
Microsoft mengembangkan Windows XP Home Edition versi Bahasa Indonesia sejak Agustus 2003 dan rencananya diluncurkan pekan ini. Namun lokalisasi ini belum seutuhnya karena hanya mengubah tampilan antar mukanya ke dalam Bahasa Indonesia. Menu-menu yang penting seperti User Assistance (Help Menu), Visual Basic Administrator (VBA), Windows Update dan Add-Ins masih menggunakan bahasa aslinya. Istilah Microsoft untuk tingkat lokalisasi paling dasar ini adalah Language Interface Pack (LIP).
Bekerja sama dengan Pusat Bahasa Depdiknas, lokalisasi Windows XP dalam bentuk LIP ini sekaligus mencanangkan pembakuan istilah-istilah teknologi ke dalam Bahasa Indonesia, seperti “tetikus” untuk mouse, “pos-el” untuk email, “wisaya” untuk wizard dan “luring” untuk offline.
Lokalisasi ini memang strategis untuk perkembangan Bahasa Indonesia di Tanah Air namun belum tentu menjawab masalah keterbatasan daya beli. Microsoft agaknya masih bersikap wait and see untuk memangkas harga Windows XP versi Bahasa Indonesia ini. “Harganya belum tentu lebih murah daripada versi internasional karena biaya pengembangan Windows XP kan pada dasarnya sama saja,” ujar Ari Kunwidodo, vice president director PT Microsoft Indonesia.
Memang saat ini belum ada alasan yang cukup kuat bagi Microsoft untuk menurunkan harga, seperti di Thailand dan Malaysia. Di kedua negara itu, tekanan Linux sangat terasa dalam program kepemilikan PC terjangkau yang digelar masing-masing pemerintah. Program di Thailand misalnya, pada awalnya hanya menyediakan PC berbasis Linux. Ternyata pesanan PC mencapai lebih dari 100.000 unit dalam beberapa pekan saja. Pilihan yang tidak bisa ditolak Microsoft, atau perusahaan itu terancam kehilangan pasar.
Sebaliknya di Indonesia, program PCRI yang rencananya menyediakan hingga 250.000 unit PC terjangkau ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Awalnya Microsoft diketahui sebagai pemasok peranti lunak namun akhirnya dibatalkan sehingga PCRI hanya tersedia dengan sistem operasi Mandrake Linux.
Kegagalan PCRI ini sedikit mengurangi Linux dan open source sebagai kekuatan penawar Microsoft. Bulan ini, Pemerintah akan mendeklarasikan program Indonesia Goes Open Source (IGOS) yang menggalakkan penggunaan peranti lunak open source di seluruh instansi, menggantikan produk bajakan Potensinya sangat besar. Dari PC saja, segmen pemerintahan saat ini mengambil porsi sekitar 15% dari total penjualan di Indonesia.
Akhirnya akan sulit bagi Microsoft untuk mempertahankan kebijakan harga tunggal di Indonesia. Lokalisasi penuh Windows XP memang strategis memberikan jalan untuk itu agar siap menghadapi kompetisi harga (yang menjadi isu utama Linux). Namun lokalisasi sebatas LIP yang lebih bernilai kosmetik saja tidak cukup. Perlu diteruskan hingga utuh dan tentunya dilanjutkan dengan kampanye pemasaran.
Deriz S. Syarief untuk Bisnis Indonesia
Friday, June 04, 2004
Mengintip Bisnis Teknologi Informasi di Masa Depan
Deriz S. Syarief
Hampir 40 tahun lalu, Gordon Moore, direktur riset Fairchild Semiconductor mengamati bahwa setiap 18 bulan, kekuatan prosesor meningkat dua kali lipat Dalam satu tahun, jumlah transistor yang dapat dimampatkan dalam satu chip silicon secara ekonomis berlipat ganda.
Fenomena yang dikemukakan peraih gelar Ph.D di bidang Kimia dan Fisika dari California Institute of Technology itu dikenal sebagai, 'Moore's Law'. Gordon Moore kini menjabat sebagai Chairman Emeritus di perusahaan prosesor dunia Intel Corporation.
Berangkat dari hukum Moore itu, lembaga riset pasar Gartner memprediksikan tahun 2008 umum dijumpai di rumah-rumah PC desktop berkecepatan 40 GigaHertz dan memori (RAM) 12 Gigabytes. Media penyimpanannya mencapai 1,5 terabytes (1500 Gigabytes), sementara lalu lintas data pada local area network (LAN) mendekati 100Gigabit per detik.
Kecepatan prosesor terus meningkat hingga 150GHz pada 2011 dengan enam terabytes media storage. Belum lagi kemajuan teknologi fisika kuantum seperti transistor nanotubes dan spintronics yang diyakini melipatgandakan unjuk kerja komputer.
Kekuatan komputer yang sebesar itu sangat mungkin mengubah cara manusia menggunakannya. Menurut prediksi Gartner, pada 2008 sebagian besar manusia mengadaptasi remote computing.
Pada saat itu, PC kemungkinan hanya terdiri dari peranti output -monitor, printer- dan peranti input -keyboard, mouse saja. Semua proses dan penyimpanan data dilakukan oleh 'komputer bersama' nun jauh di sana.
Hasil proses dikirimkan melalui bandwidth kepada PC pengguna, layaknya listrik disalurkan ke rumah-rumah dari reaktor pembangkit melalui sejumlah gardu.
Komputasi jarak jauh itu dimungkinkan karena kapasitas bandwidth sudah sedemikian besarnya. Biaya remote computing akhirnya menjadi lebih murah ketimbang local computing. Proses komputasi pun menjadi sebuah layanan publik. Pengguna tinggal menyediakan monitor dan papan ketik, lalu mencolokannya ke jaringan. Tidak perlu upgrade atau mengganti hard disk jika sudah penuh, karena itu akan dilakukan oleh perusahaan penyedia layanan yang dikenal sebagai application service provider.
Berkonsolidasi
Analis Gartner Carl Claunch memprediksikan sedikitnya satu perusahaan teknologi informasi yang tergolong kelas kakap, menghilang mulai 2004. Entah akibat akuisisi, merger, kehilangan pasar atau teknologinya absolete. Perusahaan-perusahaan dot com pun berguguran dan ibarat kolam, ikan besar memangsa ikan kecil.
Sebelum akhir 2007, industri teknologi informasi memasuki masa oligopoli -segelintir vendor menguasai pasar. Setelah konsolidasi, industri ini akan kembali tumbuh dan menghasilkan inovasi baru.
Konsolidasi vendor besar itu berdampak pada model arsitektur sistem teknologi informasi pada perusahaan. Jumlah vendor yang tidak terlalu banyak membuat peranti lunak dan peranti keras lebih kompatibel antara satu dengan yang lainnya.
Aplikasi dan middleware di masa datang akan lebih mudah diatur dan dikonfigurasi ulang sehingga lebih adaptif terhadap perubahan bisnis. Aplikasi bisnis tidak saja menyatukan berbagai divisi internal, tetapi sudah menghubungkan perusahaan dan lembaga bisnis dalam satu ekosistem ekonomi. Claunch menyebut arsitektur aplikasi ini sebagai interenterprise system.
Konsep konektivitas ini merupakan evolusi dari enterprise resources planning (ERP), customer relationship management (CRM) dan supply chain management (SCM).
Saling keterkaitan antar unit bisnis inilah yang dijanjikan oleh Web Services dan standar industri extensible markup language (XML). Bila pasar menyambut keduanya dengan baik, aplikasi akan memiliki kemampuan plug-and-play sesuai kebutuhan bisnis.
Hasil akhirnya, produktivitas dan efisiensi perusahaan melonjak drastis dan ujung-ujungnya akan mendongkrak ekonomi secara makro. Perusahaan mengoptimalkan Internet dan Intranet untuk menjalankan bisnisnya kapan saja, dimana saja dengan biaya serendah mungkin.
Namun, meningkatnya produktivitas diramalkan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Sistem otomatisasi akan memangkas kebutuhan tenaga kerja manusia.
Pada 2005, diperkirakan 70% perusahaan yang bergerak lewat Internet jumlah karyawannya berkurang 10% dan pada 2010, sebanyak 60% perusahaan mengurangi 30% karyawannya.
Analis Gartner mengingatkan pengurangan ini baru terjadi pada saat tingkat utilisasi sistem otomatisasi mencapai 100%. Di tahun sebelumnya, kebutuhan tenaga kerja teknologi informasi akan melonjak terlebih dahulu guna menyiapkan peranti keras dan lunak untuk otomatisasi itu.
Peranan bank
Presence service bisa diartikan sebagai segala macam layanan yang mendukung keberadaan individu. KTP, SIM, Kartu ATM, Kartu Kredit, Smart Card, alamat email, dan user ID adalah beberapa diantara jenis layanan itu. Tanpanya manusia modern tidak bisa berbuat apa-apa, tidak diakui keberadaannya.
Kehadiran presence service ini berawal dari konsep 'one-click Internet' yang menawarkan pengaturan preferensi dan informasi sesuai kebutuhan pengguna ketika berselancar di Internet.
Ke depan, bank akan lebih banyak berperan sebagai presence service provider karena sektor ini sarat dengan teknologi informasi dalam menjalankan bisnisnya. Disamping itu, bank sudah biasa berurusan dengan security dan privacy nasabahnya. Gartner memprediksikan 70% bank sukses mengelola layanan ini sebelum 2007.
Dari potret masa depan itu, terlihat peranan teknologi informasi dalam dunia bisnis semakin besar. Teknologi informasi tidak lagi dipandang sebagai cost center, bukan juga hanya sebagai profit center tetapi sudah menjadi enabling factor -faktor penyedia yang memungkinkan bisnis berjalan. Dalam setiap keputusan bisnis terkandung muatan teknologi informasi yang semakin kental, begitu juga sebaliknya.
Hampir 40 tahun lalu, Gordon Moore, direktur riset Fairchild Semiconductor mengamati bahwa setiap 18 bulan, kekuatan prosesor meningkat dua kali lipat Dalam satu tahun, jumlah transistor yang dapat dimampatkan dalam satu chip silicon secara ekonomis berlipat ganda.
Fenomena yang dikemukakan peraih gelar Ph.D di bidang Kimia dan Fisika dari California Institute of Technology itu dikenal sebagai, 'Moore's Law'. Gordon Moore kini menjabat sebagai Chairman Emeritus di perusahaan prosesor dunia Intel Corporation.
Berangkat dari hukum Moore itu, lembaga riset pasar Gartner memprediksikan tahun 2008 umum dijumpai di rumah-rumah PC desktop berkecepatan 40 GigaHertz dan memori (RAM) 12 Gigabytes. Media penyimpanannya mencapai 1,5 terabytes (1500 Gigabytes), sementara lalu lintas data pada local area network (LAN) mendekati 100Gigabit per detik.
Kecepatan prosesor terus meningkat hingga 150GHz pada 2011 dengan enam terabytes media storage. Belum lagi kemajuan teknologi fisika kuantum seperti transistor nanotubes dan spintronics yang diyakini melipatgandakan unjuk kerja komputer.
Kekuatan komputer yang sebesar itu sangat mungkin mengubah cara manusia menggunakannya. Menurut prediksi Gartner, pada 2008 sebagian besar manusia mengadaptasi remote computing.
Pada saat itu, PC kemungkinan hanya terdiri dari peranti output -monitor, printer- dan peranti input -keyboard, mouse saja. Semua proses dan penyimpanan data dilakukan oleh 'komputer bersama' nun jauh di sana.
Hasil proses dikirimkan melalui bandwidth kepada PC pengguna, layaknya listrik disalurkan ke rumah-rumah dari reaktor pembangkit melalui sejumlah gardu.
Komputasi jarak jauh itu dimungkinkan karena kapasitas bandwidth sudah sedemikian besarnya. Biaya remote computing akhirnya menjadi lebih murah ketimbang local computing. Proses komputasi pun menjadi sebuah layanan publik. Pengguna tinggal menyediakan monitor dan papan ketik, lalu mencolokannya ke jaringan. Tidak perlu upgrade atau mengganti hard disk jika sudah penuh, karena itu akan dilakukan oleh perusahaan penyedia layanan yang dikenal sebagai application service provider.
Berkonsolidasi
Analis Gartner Carl Claunch memprediksikan sedikitnya satu perusahaan teknologi informasi yang tergolong kelas kakap, menghilang mulai 2004. Entah akibat akuisisi, merger, kehilangan pasar atau teknologinya absolete. Perusahaan-perusahaan dot com pun berguguran dan ibarat kolam, ikan besar memangsa ikan kecil.
Sebelum akhir 2007, industri teknologi informasi memasuki masa oligopoli -segelintir vendor menguasai pasar. Setelah konsolidasi, industri ini akan kembali tumbuh dan menghasilkan inovasi baru.
Konsolidasi vendor besar itu berdampak pada model arsitektur sistem teknologi informasi pada perusahaan. Jumlah vendor yang tidak terlalu banyak membuat peranti lunak dan peranti keras lebih kompatibel antara satu dengan yang lainnya.
Aplikasi dan middleware di masa datang akan lebih mudah diatur dan dikonfigurasi ulang sehingga lebih adaptif terhadap perubahan bisnis. Aplikasi bisnis tidak saja menyatukan berbagai divisi internal, tetapi sudah menghubungkan perusahaan dan lembaga bisnis dalam satu ekosistem ekonomi. Claunch menyebut arsitektur aplikasi ini sebagai interenterprise system.
Konsep konektivitas ini merupakan evolusi dari enterprise resources planning (ERP), customer relationship management (CRM) dan supply chain management (SCM).
Saling keterkaitan antar unit bisnis inilah yang dijanjikan oleh Web Services dan standar industri extensible markup language (XML). Bila pasar menyambut keduanya dengan baik, aplikasi akan memiliki kemampuan plug-and-play sesuai kebutuhan bisnis.
Hasil akhirnya, produktivitas dan efisiensi perusahaan melonjak drastis dan ujung-ujungnya akan mendongkrak ekonomi secara makro. Perusahaan mengoptimalkan Internet dan Intranet untuk menjalankan bisnisnya kapan saja, dimana saja dengan biaya serendah mungkin.
Namun, meningkatnya produktivitas diramalkan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Sistem otomatisasi akan memangkas kebutuhan tenaga kerja manusia.
Pada 2005, diperkirakan 70% perusahaan yang bergerak lewat Internet jumlah karyawannya berkurang 10% dan pada 2010, sebanyak 60% perusahaan mengurangi 30% karyawannya.
Analis Gartner mengingatkan pengurangan ini baru terjadi pada saat tingkat utilisasi sistem otomatisasi mencapai 100%. Di tahun sebelumnya, kebutuhan tenaga kerja teknologi informasi akan melonjak terlebih dahulu guna menyiapkan peranti keras dan lunak untuk otomatisasi itu.
Peranan bank
Presence service bisa diartikan sebagai segala macam layanan yang mendukung keberadaan individu. KTP, SIM, Kartu ATM, Kartu Kredit, Smart Card, alamat email, dan user ID adalah beberapa diantara jenis layanan itu. Tanpanya manusia modern tidak bisa berbuat apa-apa, tidak diakui keberadaannya.
Kehadiran presence service ini berawal dari konsep 'one-click Internet' yang menawarkan pengaturan preferensi dan informasi sesuai kebutuhan pengguna ketika berselancar di Internet.
Ke depan, bank akan lebih banyak berperan sebagai presence service provider karena sektor ini sarat dengan teknologi informasi dalam menjalankan bisnisnya. Disamping itu, bank sudah biasa berurusan dengan security dan privacy nasabahnya. Gartner memprediksikan 70% bank sukses mengelola layanan ini sebelum 2007.
Dari potret masa depan itu, terlihat peranan teknologi informasi dalam dunia bisnis semakin besar. Teknologi informasi tidak lagi dipandang sebagai cost center, bukan juga hanya sebagai profit center tetapi sudah menjadi enabling factor -faktor penyedia yang memungkinkan bisnis berjalan. Dalam setiap keputusan bisnis terkandung muatan teknologi informasi yang semakin kental, begitu juga sebaliknya.
Thursday, June 03, 2004
Media baru membunuh media konvensional?
Banyak orang yang mengatakan bahwa Internet dapat membuat tutupnya media publikasi konvensional yang hanya mengandalkan media cetak. Hype ini belum terbukti. Hal ini disebabkan karena dahulu untuk menayangkan (publish) sebuah tulisan di Internet dibutuhkan kemampuan coding HTML. Kemudian muncul alat bantu yang mempermudah penulisan HTML. Namun ini masih kurang. Hasil tampilan masih pas-pasan saja.
Muncullah blogger dengan alat bantu penulisan dan cara penyajian yang menarik. Ada mekanisme untuk mengubah tema (theme, style) dari tampilan dengan hanya menekan beberapa tombol saja. Hasilnya adalah tampilan yang sebanding dengan tampilan dari media cetak.
Hanya, masalah konvensional masih belum dipecahkan, yaitu mencari sumber tulisan yang bagus. Yang ini ternyata masih belum bisa diotomatiskan. Masih harus dilakukan oleh orang. Mungkin suatu saat ini bisa diotomatiskan dengan menggunakan program intelegensia buatan yang dijalankan oleh komputer? Kita tinggal menuliskan plotnya, memilih temanya (serius, komedi), dan kemudian sang komputer menuliskan detailnya.
Nah, kalau sudah begitu maka media baru ini baru bisa mulai dikatakan membunuh media konvensional. Tapi mungkin ini masih belum cukup. Saya masih ingat lagu "video kills radio star". Ternyata video tidak membunuh bintang radio, bahkan membantu penjualan album bintang radio tersebut. Nampaknya media baru ini tidak membunuh media konvensional, malah meningkatkan penjualannya. Siapa yang mau eksperimen?
-- br
Muncullah blogger dengan alat bantu penulisan dan cara penyajian yang menarik. Ada mekanisme untuk mengubah tema (theme, style) dari tampilan dengan hanya menekan beberapa tombol saja. Hasilnya adalah tampilan yang sebanding dengan tampilan dari media cetak.
Hanya, masalah konvensional masih belum dipecahkan, yaitu mencari sumber tulisan yang bagus. Yang ini ternyata masih belum bisa diotomatiskan. Masih harus dilakukan oleh orang. Mungkin suatu saat ini bisa diotomatiskan dengan menggunakan program intelegensia buatan yang dijalankan oleh komputer? Kita tinggal menuliskan plotnya, memilih temanya (serius, komedi), dan kemudian sang komputer menuliskan detailnya.
Nah, kalau sudah begitu maka media baru ini baru bisa mulai dikatakan membunuh media konvensional. Tapi mungkin ini masih belum cukup. Saya masih ingat lagu "video kills radio star". Ternyata video tidak membunuh bintang radio, bahkan membantu penjualan album bintang radio tersebut. Nampaknya media baru ini tidak membunuh media konvensional, malah meningkatkan penjualannya. Siapa yang mau eksperimen?
-- br
Sunday, May 30, 2004
Virus dan Worm: Dahsyatnya Kekuatan Kata-Kata!
Oleh: Wicak Hidayat,spesial untuk TechnoMedia
Coba ingat, tahun 2003 lalu dunia internet diserbu oleh virus dan worm
dalam jumlah besar. Akibatnya, perusahaan-perusahaan di dunia merugi jutaan dolar.
Energi dan waktu tersedot untuk membersihkan komputer dari infeksi.
Beberapa nama ini, tentu masih cukup segar dalam ingatan: MSBlaster, Slammer dan Keluarga Besar SoBig.
Ini yang tidak dilihat orang di permukaan. Worm, virus dan program
jahat lainnya hanyalah barisan kata-kata. Kok bisa?
Sederhananya begini: Virus, worm de el el adalah program komputer.
Setiap program komputer disusun oleh kode sumber, kode sumber tersebut adalah kata-kata. Seperti puisi, kata-kata ini tidak mudah dimengerti awam
tetapi tetap mampu dikenali sebagai kata-kata.
Bagi komputer, kata-kata itu lebih tidak dimengerti lagi. Mesin ini
hanya bisa membaca digit, pulsa-pulsa elektronik yang mewakili 'nol' dan 'satu'. Kata-kata itu hanya mampu dibaca oleh sebuah penerjemah bernama compiler yang menyusun kata-kata itu dalam bahasa yang mudah dimengerti komputer.
Konsepnya sederhana, seperti seorang tamu negara dari negeri asing yang
berbicara lewat penerjemah. Tapi efeknya dahsyat! Kata-kata itu hidup
dan menghidupkan mesin bodoh bernama komputer.
Di tangan pembuat virus/worm, kata-kata itu lebih dahsyat lagi. Karena
dunia saat ini sudah sedemikian ruwetnya tercampur oleh komputer. Seperti pensil dan kertas, komputer hadir ditengah peradaban umat manusia dan menyatu tanpa malu-malu. Komputer sudah semakin diandalkan oleh umat manusia dalam menjalankan kerja sehari-hari mereka.
Dalam keadaan itu, barisan kata-kata pembuat virus mampu meruntuhkan
infrastruktur Teknologi Informasi: mengganggu jadwal penerbangan,
mengusik telepon darurat 911 yang kesohor di Amerika Serikat, bahkan membantai beberapa jaringan telepon. Dan, yang paling mengerikan, kata-kata yang hidup itu mampu merusak ATM
Bayangkan! Virus, worm, trojan dan program jahat lainnya, mereka
hanyalah produk kata-kata. Namun seperti kata pepatah tua: kata-kata dapat lebih tajam dari pedang
Coba ingat, tahun 2003 lalu dunia internet diserbu oleh virus dan worm
dalam jumlah besar. Akibatnya, perusahaan-perusahaan di dunia merugi jutaan dolar.
Energi dan waktu tersedot untuk membersihkan komputer dari infeksi.
Beberapa nama ini, tentu masih cukup segar dalam ingatan: MSBlaster, Slammer dan Keluarga Besar SoBig.
Ini yang tidak dilihat orang di permukaan. Worm, virus dan program
jahat lainnya hanyalah barisan kata-kata. Kok bisa?
Sederhananya begini: Virus, worm de el el adalah program komputer.
Setiap program komputer disusun oleh kode sumber, kode sumber tersebut adalah kata-kata. Seperti puisi, kata-kata ini tidak mudah dimengerti awam
tetapi tetap mampu dikenali sebagai kata-kata.
Bagi komputer, kata-kata itu lebih tidak dimengerti lagi. Mesin ini
hanya bisa membaca digit, pulsa-pulsa elektronik yang mewakili 'nol' dan 'satu'. Kata-kata itu hanya mampu dibaca oleh sebuah penerjemah bernama compiler yang menyusun kata-kata itu dalam bahasa yang mudah dimengerti komputer.
Konsepnya sederhana, seperti seorang tamu negara dari negeri asing yang
berbicara lewat penerjemah. Tapi efeknya dahsyat! Kata-kata itu hidup
dan menghidupkan mesin bodoh bernama komputer.
Di tangan pembuat virus/worm, kata-kata itu lebih dahsyat lagi. Karena
dunia saat ini sudah sedemikian ruwetnya tercampur oleh komputer. Seperti pensil dan kertas, komputer hadir ditengah peradaban umat manusia dan menyatu tanpa malu-malu. Komputer sudah semakin diandalkan oleh umat manusia dalam menjalankan kerja sehari-hari mereka.
Dalam keadaan itu, barisan kata-kata pembuat virus mampu meruntuhkan
infrastruktur Teknologi Informasi: mengganggu jadwal penerbangan,
mengusik telepon darurat 911 yang kesohor di Amerika Serikat, bahkan membantai beberapa jaringan telepon. Dan, yang paling mengerikan, kata-kata yang hidup itu mampu merusak ATM
Bayangkan! Virus, worm, trojan dan program jahat lainnya, mereka
hanyalah produk kata-kata. Namun seperti kata pepatah tua: kata-kata dapat lebih tajam dari pedang
Tuesday, May 25, 2004
Windows XP Indonesia: Kali Ini Bill Gates Kalah Start dengan Linux
Jakarta, Sinar Harapan
Setelah sekian lama digodok, akhirnya sistem operasi Windows XP Bahasa Indonesia rampung dikerjakan. Ternyata penerjemahannya belum sepenuhnya dilakukan. Ini bukan pertamakalinya ada sistem operasi berbahasa Indonesia. Linux sudah lebih dulu mencuri start.
Kalau tak ada aral melintang, 10 Juni mendatang Windows XP Bahasa Indonesia resmi dirilis di Indonesia. Jangan kecewa, penerjemahan menu-menunya belum mencakup keseluruhan alias full localized. “Ini masih tahap enablement, hanya proofing tools saja. Masih sampai pada level sistem operasi saja. Sedangkan program seperti Microsoft (MS) Words, Excel atau Power Point belum,” jelas Wesly Sumenap, Desktop Product manager Microsoft Indonesia kepada pers di Jakarta belum lama ini.
Belum Keseluruhan
Itu berarti, pengindonesaan belum mencakup user assistance (help menu), Visual basic Administrator, Online Service, tambahan add-ins seperti Smart Tag, Macros dan sebagainya. Menu Windows update, Security Faxes juga masih dihadirkan dalam bahasa Inggris. Wesly menandaskan bahwa tahap ini merupakan permulaan dari penerjemahan. Tahap selanjutnya adalah partial localization, dimana pelokalan bahasa dilakukan lebih banyak persentasinya. Saat ini versi tersebut baru ada di negara Bulgaria.
Versi full localized Windows sendiri, dimana Windows diterjemahkan 100 persen ke bahasa setempat baru terdapat di 24 bahasa di seantero dunia. Menurut Wesly, dengan diterjemahkan ke bahasa Indonesia diharap penggunaan dan penerapan software Windows XP lebih menarik minat penduduk Indonesia. Bahkan pihak Microsoft yang biasanya mengharamkan download gratis berani menawarkan download sistem operasi ini secara cuma-cuma di situsnya.
Seperti apa itu Windows XP Bahasa Indonesia? Dari penilaian SH, cukup banyak penggunaan istilah baru dalam bahasa kita yang agak membingungkan pengguna. Contoh saja kata “drive” yang diterjemahkan menjadi “kandar.” Orang awam akan terkesima membacanya. Tapi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “kandar” adalah kata dasar dari kendara. Lalu ada lagi kata “tetikus” yang memancing tawa. Jangan terkejut, ini merupakan padanan kata “mouse”. Kemudian ada lagi “wisaya” yang dipadankan dengan “wizard”. Belum lagi “daring” sebagai persamaan atas kata “online”. Penerjemahan setiap kata memang tidak sama persis dengan arti sesungguhnya, melainkan sedikit “miring.” Misal saja kata “introduction” tidak diterjemahkan sebagai “pengenalan”, melainkan “pendahuluan.” Isinya bukan dalam format latar belakang, tujuan, metoda, melainkan sekadar pengenalan isi.
Berdasar paparan Wesly, terjemahan tersebut diverifikasi oleh badan linguistik dari instansi pemerintah yang tak ia sebutkan namanya. Pendekatan linguistik dalam pengembangan kosa katanya dilakukan sejak Agustus 2003 silam. Ini berarti mereka memakan waktu sekitar tujuh bulan demi menggodok sistem operasi berbahasa lokal tersebut.
Bicara soal sistem operasi berbahasa Indonesia, sebenarnya Microsoft bukan pihak yang pertamakali melakukan. Tahun 2002, sistem operasi Linux yang open source sudah memulai lebih dulu. Lokalisasi bahasa itu dikenal dengan program WinBI, dikerjakan 100 persen oleh putra-putri Indonesia. Beda dengan Windows, sistem ini 100 persen pula dibahasa Indonesia-kan.
Bukan yang Pertama
“Dalam kurun waktu tiga bulan kami komunitas Linux bekerjasama dengan Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil merampungkannya. Hasilnya sebuah sistem operasi berbahasa Indonesia yang gratis dibagikan bagi rakyat,” ujar I Made Wiryana, pengajar Universitas Gunadarma yang waktu itu tergabung dalam tim pembuat WinBI kepada SH dalam kesempatan berbeda.
Sayang beribu sayang proyek ini bisa dikatakan gagal akibat kurang komersil. Menurut Made, WinBI identik dengan proyek pemerintah, dengan dana pemerintah pula. Bahkan semua database penerjemahan disediakan secara gratis dan bisa diakses oleh orang yang berkepentingan. Namun kembali karena kurang bernilai komersil, maka kurang pula mendapat sambutan. Bahkan WinBI teramat identik dengan milik pemerintah sehingga orang berpikiran program tersebut hanya boleh dipakai oleh pemerintah saja.
Padahal spesifikasi komputer yang dibutuhkan untuk memakai WinBI sangatlah simple. Cukup komputer dengan prosesor 486 ke atas atau yang kompatibel dengan RAM 32 MB ke atas. Harddisk minimal 1.5 GB bila termasuk semua aplikasi perkantoran, internet, multimedia dan sebagainya.
Penerjemahannya sudah full localized, dalam artian mencakup keseluruhan menu. Mulai dari komponen user interface. Hal ini meliputi, menu, tombol, pilihan pada menu, judul Window dan beberapa komponen user interface lainnya. Juga pada warning message (peringatan, dan pesan kesalahan). Kalimat terjemahan yang berupa peringatan atau pesan ini jelas harus diterjemahkan dengan konteks yang tepat. Tidak ketinggalan hingga ke menu Online Help, dimana piranti lunak lunak biasanya memiliki keterangan bantu yang bersifat on-line. Penerjemahan keterangan bantu ini harus mempermudah pengguna, dan jangan hanya memperhatikan faktor benar atau tidaknya dari sisi tata bahasa saja. Di samping itu, faktor format berkas yang digunakan harus juga diperhatikan.
Full Localized
Yang lebih membanggakan, WinBI ini dirilis lengkap dengan buku petunjuk penggunaan. Satu hal yang tidak terdapat pada Windows XP bahasa Indonesia. Buku ini memudahkan pengguna memakai sistem. Pada pekerjaan penerjemahan dokumentasi ini, istilah yang digunakan di buku petunjuk penggunaan harus sama dengan istilah yang ditampilkan oleh program. Bahkan Made dan kawan-kawan juga menyediakan situs web yang berisikan artikel online seluk beluk WinBI.
“Penerjemahan yang baik bukan saja menjaga kaidah bahasa tapi juga perlu dijaga agar istilah tersebut tidak menjadi terlalu ajaib atau jauh dari istilah yang biasa digunakan di awam,” tutur Made yang kini bermukim di Jerman.
Banyak penerjemah yang memahami bahasa Indonesia tapi kurang memahami komputer sehingga bila melakukan penerjemahan maka hasilnya mejadi sulit dipahami. Begitu juga sebaliknya banyak yang pengetahuan komputernya baik, tetapi kemampuan menulis bahasa Indonesianya kurang memadai. Mencari orang yang memiliki pengetahuan komputer, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang baik adalah tergolong langka.
Selain itu perlu juga menjaga konsistensi penerjemahan pada satu program. Pada satu program beberapa "terminologi" terjemahan digunakan beberapa kali. Dalam satu program ada beberapa frase yang mengacu ke kata “ file” atau “find”. Misal pada kata “temukan” yang merupakan terjemahan dari “find” muncul pada berbagai komponen menu, yaitu pada nama window, check-box, dan pada label. Kata “temukan” tersebut adalah terjemahan dari “find” yang digunakan haruslah sama, jangan berbeda-beda, agar tidak membingungkan. Hal lain yang perlu dijaga konsistensinya adalah penerjemahan antara program dan online help, serta penerjemahan antara program, online help dan buku manual.(SH/merry magdalena)
Setelah sekian lama digodok, akhirnya sistem operasi Windows XP Bahasa Indonesia rampung dikerjakan. Ternyata penerjemahannya belum sepenuhnya dilakukan. Ini bukan pertamakalinya ada sistem operasi berbahasa Indonesia. Linux sudah lebih dulu mencuri start.
Kalau tak ada aral melintang, 10 Juni mendatang Windows XP Bahasa Indonesia resmi dirilis di Indonesia. Jangan kecewa, penerjemahan menu-menunya belum mencakup keseluruhan alias full localized. “Ini masih tahap enablement, hanya proofing tools saja. Masih sampai pada level sistem operasi saja. Sedangkan program seperti Microsoft (MS) Words, Excel atau Power Point belum,” jelas Wesly Sumenap, Desktop Product manager Microsoft Indonesia kepada pers di Jakarta belum lama ini.
Belum Keseluruhan
Itu berarti, pengindonesaan belum mencakup user assistance (help menu), Visual basic Administrator, Online Service, tambahan add-ins seperti Smart Tag, Macros dan sebagainya. Menu Windows update, Security Faxes juga masih dihadirkan dalam bahasa Inggris. Wesly menandaskan bahwa tahap ini merupakan permulaan dari penerjemahan. Tahap selanjutnya adalah partial localization, dimana pelokalan bahasa dilakukan lebih banyak persentasinya. Saat ini versi tersebut baru ada di negara Bulgaria.
Versi full localized Windows sendiri, dimana Windows diterjemahkan 100 persen ke bahasa setempat baru terdapat di 24 bahasa di seantero dunia. Menurut Wesly, dengan diterjemahkan ke bahasa Indonesia diharap penggunaan dan penerapan software Windows XP lebih menarik minat penduduk Indonesia. Bahkan pihak Microsoft yang biasanya mengharamkan download gratis berani menawarkan download sistem operasi ini secara cuma-cuma di situsnya.
Seperti apa itu Windows XP Bahasa Indonesia? Dari penilaian SH, cukup banyak penggunaan istilah baru dalam bahasa kita yang agak membingungkan pengguna. Contoh saja kata “drive” yang diterjemahkan menjadi “kandar.” Orang awam akan terkesima membacanya. Tapi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “kandar” adalah kata dasar dari kendara. Lalu ada lagi kata “tetikus” yang memancing tawa. Jangan terkejut, ini merupakan padanan kata “mouse”. Kemudian ada lagi “wisaya” yang dipadankan dengan “wizard”. Belum lagi “daring” sebagai persamaan atas kata “online”. Penerjemahan setiap kata memang tidak sama persis dengan arti sesungguhnya, melainkan sedikit “miring.” Misal saja kata “introduction” tidak diterjemahkan sebagai “pengenalan”, melainkan “pendahuluan.” Isinya bukan dalam format latar belakang, tujuan, metoda, melainkan sekadar pengenalan isi.
Berdasar paparan Wesly, terjemahan tersebut diverifikasi oleh badan linguistik dari instansi pemerintah yang tak ia sebutkan namanya. Pendekatan linguistik dalam pengembangan kosa katanya dilakukan sejak Agustus 2003 silam. Ini berarti mereka memakan waktu sekitar tujuh bulan demi menggodok sistem operasi berbahasa lokal tersebut.
Bicara soal sistem operasi berbahasa Indonesia, sebenarnya Microsoft bukan pihak yang pertamakali melakukan. Tahun 2002, sistem operasi Linux yang open source sudah memulai lebih dulu. Lokalisasi bahasa itu dikenal dengan program WinBI, dikerjakan 100 persen oleh putra-putri Indonesia. Beda dengan Windows, sistem ini 100 persen pula dibahasa Indonesia-kan.
Bukan yang Pertama
“Dalam kurun waktu tiga bulan kami komunitas Linux bekerjasama dengan Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil merampungkannya. Hasilnya sebuah sistem operasi berbahasa Indonesia yang gratis dibagikan bagi rakyat,” ujar I Made Wiryana, pengajar Universitas Gunadarma yang waktu itu tergabung dalam tim pembuat WinBI kepada SH dalam kesempatan berbeda.
Sayang beribu sayang proyek ini bisa dikatakan gagal akibat kurang komersil. Menurut Made, WinBI identik dengan proyek pemerintah, dengan dana pemerintah pula. Bahkan semua database penerjemahan disediakan secara gratis dan bisa diakses oleh orang yang berkepentingan. Namun kembali karena kurang bernilai komersil, maka kurang pula mendapat sambutan. Bahkan WinBI teramat identik dengan milik pemerintah sehingga orang berpikiran program tersebut hanya boleh dipakai oleh pemerintah saja.
Padahal spesifikasi komputer yang dibutuhkan untuk memakai WinBI sangatlah simple. Cukup komputer dengan prosesor 486 ke atas atau yang kompatibel dengan RAM 32 MB ke atas. Harddisk minimal 1.5 GB bila termasuk semua aplikasi perkantoran, internet, multimedia dan sebagainya.
Penerjemahannya sudah full localized, dalam artian mencakup keseluruhan menu. Mulai dari komponen user interface. Hal ini meliputi, menu, tombol, pilihan pada menu, judul Window dan beberapa komponen user interface lainnya. Juga pada warning message (peringatan, dan pesan kesalahan). Kalimat terjemahan yang berupa peringatan atau pesan ini jelas harus diterjemahkan dengan konteks yang tepat. Tidak ketinggalan hingga ke menu Online Help, dimana piranti lunak lunak biasanya memiliki keterangan bantu yang bersifat on-line. Penerjemahan keterangan bantu ini harus mempermudah pengguna, dan jangan hanya memperhatikan faktor benar atau tidaknya dari sisi tata bahasa saja. Di samping itu, faktor format berkas yang digunakan harus juga diperhatikan.
Full Localized
Yang lebih membanggakan, WinBI ini dirilis lengkap dengan buku petunjuk penggunaan. Satu hal yang tidak terdapat pada Windows XP bahasa Indonesia. Buku ini memudahkan pengguna memakai sistem. Pada pekerjaan penerjemahan dokumentasi ini, istilah yang digunakan di buku petunjuk penggunaan harus sama dengan istilah yang ditampilkan oleh program. Bahkan Made dan kawan-kawan juga menyediakan situs web yang berisikan artikel online seluk beluk WinBI.
“Penerjemahan yang baik bukan saja menjaga kaidah bahasa tapi juga perlu dijaga agar istilah tersebut tidak menjadi terlalu ajaib atau jauh dari istilah yang biasa digunakan di awam,” tutur Made yang kini bermukim di Jerman.
Banyak penerjemah yang memahami bahasa Indonesia tapi kurang memahami komputer sehingga bila melakukan penerjemahan maka hasilnya mejadi sulit dipahami. Begitu juga sebaliknya banyak yang pengetahuan komputernya baik, tetapi kemampuan menulis bahasa Indonesianya kurang memadai. Mencari orang yang memiliki pengetahuan komputer, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang baik adalah tergolong langka.
Selain itu perlu juga menjaga konsistensi penerjemahan pada satu program. Pada satu program beberapa "terminologi" terjemahan digunakan beberapa kali. Dalam satu program ada beberapa frase yang mengacu ke kata “ file” atau “find”. Misal pada kata “temukan” yang merupakan terjemahan dari “find” muncul pada berbagai komponen menu, yaitu pada nama window, check-box, dan pada label. Kata “temukan” tersebut adalah terjemahan dari “find” yang digunakan haruslah sama, jangan berbeda-beda, agar tidak membingungkan. Hal lain yang perlu dijaga konsistensinya adalah penerjemahan antara program dan online help, serta penerjemahan antara program, online help dan buku manual.(SH/merry magdalena)
Subscribe to:
Posts (Atom)