Friday, February 16, 2007

Gathering+HUT ke-3 Technomedia

Ultah Technomedia sebetulnya 31 Januari lalu, genap yang ke-3. Tapi akibat begitu banyak kesibukan dan sempet ada bencana banjir Jakarta, akhirnya baru bisa dirayakan 16 Feb kemarin.
Seerrruuuuuu...heboh nyanyi2 dan becanda2.
Tuh sebagian pada nampang tarik suara:
Rina, Eno, Evi, widya, Merry, Ajeng, KK, Wandi, Bona dan Maswig. Yang lain kayak Chandra, Wanti, Agus, Suci, Donny BU, Idaman, Yuyuh, Shita, serta gerombolan Ristek pada malu-malu aja duduk manis nonton kita beraksi.

Eh jangan salah, ada artis juga lho, Mbak Penyanyi yang sexy dan cantik, bikin si Idaman kesengsem minta foto bareng.

Yang kasian, Rourry, Ardhi dan Wicak udah bela2in naik taxi eh tetep aja datengnya telat. Acara udah selesai mereka masih nahan pipis di tengah kemacetan, berjuang menuju lokasi acara.

Mas Didin juga ngga bisa dateng akibat kecelakaan. Kalo Heru Sutadi sih katanya ada rapat dadakan di Postel. Sementara BR jemput anaknya di Bandara. Sto? Kebanjiran di Tangerang!

But acara tetap meriah lhoooooo!!!! Thanks, KK and the Ristekers yang sudah memfasilitasi yaaa.















Simposium Asia OOS ke-8, Nusa Dua, Bali



Sebelum acara simposium Asia OOS ke-8 di Nusa Dua Bali, kita makan-makan dan jalan-jalan dulu ke Jimbaran dan Kuta. Duh jangan pada sirik ya yang ngga ikutan..hehehe.


Dan pas acaranya, kita lunch rame2 di Westin. Komplit tuh, ada Mas Budi Rahardjo, Pak Wawan, Bu Roos, Bu Dewi, nampang bareng Merry dan Dewanti, di belakang ada Widya, Adit, Anton dkk. Fotografernya Bona.




Asia Source 2, Sukabumi


Wajah2 jurnalis Technomedia yang ikutan sok sibuk di pembukaan Asia Source 2 Sukabumi, 22 januari 2007.

Gembong Linux + Moddy


Oya, setelah acara "sok resmi" di Ristek, gembong Linux I Made Wiryana menyempatkan santai2 di Plaza Semanggi bersama moderator milis alias moddy: Ajeng dan Merry plus Libby (Merry jr) dan seorang teman lama.

Komunitas Open Source Indonesia


Duh, padet amat ya fotonya, sampe banyak yang ngga kebagian frame.
19 Januari 2007, komunitas Open Source Indonesia yang mayoritas juga member Technomedia berdiskusi dengan Menristek Kusmayanto Kadiman (KK).
Yang hadir al: Adinoto, I Made Wiryana, Rusmanto, Rahmat Samik Ibrahim, Bona Simanjuntak, Kemal Prihatman, KK, Suwandi Ahmad, Merry Magdalena (mewakili media) dsb dsb.

Friday, September 16, 2005

Strategi Jitu Membuat dan Memelihara Situs Berbasis Konten

Sony Arianto Kurniawan sony-ak@sony-ak.com

Siapa yang tidak kenal internet saat ini. Manfaat dan gunanya sudah dirasakan oleh semua orang dan bisa dikatakan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dulu banyak orang menganggap internet identik dengan “kegiatan browsing ke situs-situs di internet”, tetapi sebenarnya aplikasi dari internet sendiri sangat luas dan tidak terbatas. Mulai dari web, e-mail, chat, voice over IP, remote control, entertainment dan lain sebagainya. Banyak bukan?
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa salah satu aplikasi internet adalah situs atau web. Ini merupakan aplikasi internet yang populer saat ini, dimana banyak pihak atau orang membuat situs di internet dengan konten yang beraneka ragam. Memang, membuat situs internet saat ini sangat mudah. Anda bisa beli domain, sewa hosting dan kemudian buat desain web sesuai dengan keinginan Anda dan lalu Anda upload ke server tadi. Sederhana bukan?
Materi ini memang bukanlah mengenai cara membuat situs, juga bukan mengenai cara melakukan upload. Materi ini lebih ditujukan kepada Anda yang punya cita-cita membangun situs yang berbasis konten. Apa itu situs berbasis konten? Simak saja tulisan ini seterusnya.
Situs berbasis konten
Anda pernah akses ke detik.com? Atau kompas.com? Atau news.com? Itu hanya sebagian kecil dari situs-situs yang berbasis konten. Intinya, situs berbasis konten berarti situs tersebut mengisi dirinya sendiri dengan konten atau materi yang selalu diupdate secara teratur. Kalau kita lihat situs-situs di atas, katakanlah detik.com, apa yang menjadi kontennya? Tentu saja berita-berita terkini dan dilengkapi juga dengan banyak channel-channel yang lainnya. Konten beritanya selalu diupdate secara teratur dan rapi. Mungkin ada di antara Anda yang bertanya, apakah situs portal seperti plasa.com itu merupakan situs berbasis konten? Jawabannya jelas “iya”. Mereka juga memiliki konten yang padat dalam situsnya mulai informasi produk dan yang lainnya. Bagaimana dengan Friendster yang terkenal itu? Itu juga bisa disebut sebagai situs komunitas berbasis konten. Apa kontennya? Jelas kontennya adalah orang-orang yang menjadi anggota dari Friendster.
Portal sendiri dibagi menjadi dua bagian besar.
Portal Vertical, yaitu situs portal yang kontennya hanya khusus membahas mengenai suatu topik tertentu. Sebagai contoh dari situs jenis ini misalnya ilmukomputer.com yang membahas seputar komputer, atau alcoholmd.com (situs yang membahas khusus seputar alkohol). Ada juga news.com yang memberikan berita khusus seputar teknologi informasi.
Portal Horizontal, yaitu situs portal yang kontennya berisi berbagai macam topik, misalnya berita, hiburan, ekonomi dan lain sebagainya. Contoh mudah dari situs jenis ini misalnya seperti detik.com (yang memberi banyak channel mulai dari berita, hiburan, teknologi dan lainnya), kemudian contoh populer lainnya seperti Yahoo! yang di situsnya ada banyak sekali channel mulai dari game, mail, news, messenger dan lain sebagainya.
Strategi membuat situs berbasis konten
Membuat situs memang sangat mudah, dengan bermodalkan pengetahuan HTML, bahasa pemrograman berbasis web (seperti ASP, PHP, .NET dan lain sebagainya), serta menguasai database, maka Anda sudah bisa membuat situs yang kontennya dikendalikan dari suatu database. Tetapi bukan itu yang penting sebenarnya. Anda perlu sadar bahwa tujuan membuat situs adalah agar bisa dikenal luas oleh masyarakat, bisa dimaintenance dengan mudah dan yang paling penting berguna bagi semua orang.
Oleh karena itu ada beberapa persiapan yang dibutuhkan sebelum Anda ingin membuat situs berbasis konten yang sukses di internet.
Siapkan konsep situsnya
Sistem kerjanya, Anda harus pikirkan dengan matang situs apa yang hendak Anda buat. Misalnya Anda ingin membuat situs komunitas seperti friendster, maka pikirkan sistem kerjanya seperti apa, alur prosesnya seperti apa dan lain sebagainya.
Fitur-fiturnya, pikirkan fitur-fitur yang hendak dibuat dalam situs itu, misalnya membership, contact us, forum, polling, shoutbox dan lain sebagainya.
Target audience, pikirkan siapa yang nantinya Anda harapkan untuk mengakses web Anda. Apakah kalangan muda, umum, peneliti, ibu-ibu dan lain sebagainya.
Rencana bisnis (jika ada), ini juga merupakan hal yang menarik untuk dipikirkan. Ini salah satu cara bahwa situs Anda bisa menghasilkan uang untuk Anda, misalnya melalui iklan, akuisisi, sponsor atau juga investor. Jika Anda menggarap situs Anda secara sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin akan ada pihak yang tertarik untuk mengembangkannya secara bisnis.
Pilih platform yang akan digunakan, ini harus juga Anda pikirkan baik-baik. Banyak kegagalan terjadi karena memilih platform yang tidak tepat. Platform di sini maksudnya situs Anda bisa di hosting di atas platform Windows, Linux, Unix atau yang lainnya. Pilihlah yang murah, mudah didapat dan juga banyak digunakan oleh orang lain. Misalnya saja platform Linux saat ini banyak digunakan untuk web hosting, selain juga Windows. Linux punya beberapa kelebihan seperti harga sewa hosting yang lebih murah dibandingkan dengan Windows dan juga performa yang dihasilkan juga baik.
Mulai implementasi situs
Web layout, memilih layout yang tepat untuk web memang hal yang sulit. Usahakan layout website Anda terlihat profesional, rapi dan yang paling penting adalah mudah dimodifikasi atau skalabel.
Site map, site map sangat penting sebagai panduan Anda dan juga panduan bagi visitor ketika mengakses web Anda.
Graphics design, grafis design ini meliputi urusan grafis berbagai elemen dalam web Anda, misalnya foto, icon, simbol dan grafis artistik lainnya.
Web programming
Front-end programming, jika web Anda berbasis konten dan seluruh konten diambil dari database maka pastilah diperlukan script program untuk menampilkan konten di web Anda. Misalnya saja programming untuk di halaman depan web atau juga pada halaman berita, daftar produk, artikel dan lain sebagainya.
Back-end programming (CMS), jika web Anda berbasis konten maka Anda perlu CMS atau Content Management System, CMS adalah suatu aplikasi web yang tujuannya adalah memasukkan konten ke dalam database sehingga nantinya bisa digunakan oleh point i di atas. CMS bisa dibuat menggunakan Java, PHP, ASP dan lain sebagainya.
Prepare web infrastructure
Pilih domain, pilihlah domain yang mudah diingat, harga domain juga bervariasi berkisar 90 – 150 ribu per tahun. Domain adalah brand Anda.
Sewa hosting, pilih hosting yang reliabel dan stabil. Untuk ini Anda harus sering bertanya-tanya kepada rekan-rekan yang sudah berpengalaman. Jangan tertipu dengan hosting yang murah, karena biasanya performanya tidak begitu baik dan support yang diberikan juga tidak baik
Upload material ke web hosting
Web marketing
Daftarkan ke search engine, Google dan Yahoo! menawarkan jasa pendaftaran ke engine mereka secara gratis.
Sebar dari mulut-ke-mulut, Anda bisa cerita ke rekan-rekan Anda mengenai situs yang Anda buat.
Sebar lewat mailing list atau e-mail, Anda bisa iklankan situs Anda di milis atau lewat e-mail (tentunya dengan cara yang halus) dan jangan sampai disebut sebagai spam.
Sebar lewat chat or chatroom, Anda bisa iklankan situs Anda di chat atau chatroom seperti IRC. Sebaiknya iklankan situs Anda pada chatroom yang relevan.
Tawarkan kerjasama dengan situs-situs lain, ini sangat menarik untuk dicoba, coba tawarkan kerjasama pertukaran banner iklan dengan situs-situs lainnya, karena dengan demikian situs Anda akan semakin dikenal orang banyak.
Web maintenance
Konsisten dalam mengisi konten (melalui CMS), usahakan selalu konsisten dalam mengisi konten yang ada, misalnya update berita setiap hari, update artikel sehari sekali dan lain sebagainya. Konten yang jarang diupdate akan membuat situs semakin jarang dilirik orang.
Konsisten dalam melakukan marketing, usahakan selalu konsisten dalam mengiklankan situs Anda semaksimal mungkin. Ini bisa dilakukan dengan melakukan hal-hal yang sudah dibicarakan pada point 3 di atas.
Konsisten dalam melakukan inovasi fitur pada web Anda, usahakan selalu memikirkan fitur-fitur apa yang menarik untuk situs Anda. Anda harus sering melakukan riset pasar dan juga melihat perkembangan situs kompetitor.
Ukur kesuksesan website Anda
Amati feedback yang masuk, feedback penting bagi situs Anda untuk mengetahui reaksi visitor. Selalu balas feedback yang masuk dan ucapkan terimakasih.
Amati statistik web Anda, statistik web berguna untuk mengetahui konten apa saja yang bagi visitor dianggap menarik. Ini penting untuk menentukan konten berikutnya.
Amati popularitas web Anda di search engine, ini sangat penting dilakukan untuk melihat seberapa jauh web Anda sudah dicrawl oleh search engine. Anda bisa ketikkan site:domain-anda.com untuk mengetahui berapa item dari dari web Anda yang sudah masuk ke search engine.
Amati keyword dari search engine ke web Anda, ini penting untuk diketahui sebagai acuan keyword mana saja yang paling sering digunakan orang di search engine dan keyword tersebut terasosiasi dengan situs Anda. Dari sini Anda bisa menentukan konten selanjutnya untuk situs Anda, sehingga akan semakin banyak yang masuk ke situs Anda.
Buat keuntungan dari situs Anda
Ikutlah program afiliasi di internet, contohnya adalah Google AdSense, ini bisa Anda lakukan untuk menambah income bagi Anda.
Tawarkan ke investor, jika situs Anda dibuat secara professional, bukan tidak mungkin akan ada investor yang membelinya.
Tawarkan slot iklan, Anda bisa mulai dengan cara menawarkan slot iklan yang ada pada situs Anda ke pasar. Untuk tahap awal mungkin Anda bisa memberi iklan gratis kepada mereka.
Sekian dulu tulisan sederhana kali ini. Semoga bermanfaat bagi Anda semua. Jika ada komentar atau saran silakan dilayangkan ke sony-ak@sony-ak.com. Untuk membaca tulisan penulis yang lain silakan menuju ke Sony AK Knowledge Center dengan alamat di www.sony-ak.com.
Penulis adalah praktisi TI di Indonesia, tinggal di Jakarta. Saat ini bekerja di SDA Asia Magazine dan men-share sebagian isi otaknya melalui Sony AK Knowledge Center (www.sony-ak.com).

Friday, August 26, 2005

Lindungi Privasi Anda di Dunia Maya

Lindungi Privasi Anda di Dunia Maya

Merry Magdalena

Jakarta - Sejauh mana privasi seseorang bisa terlindungi di dunia maya? Situs pencari sejenis Google bisa saja menyibak rahasia hidup Anda.

“Dari mana Saudara tahu nomor telepon saya? Saya tidak pernah memublikasikannya,” seorang narasumber terhenyak ketika dihubungi wartawan. Dengan santai, wartawan tadi menjawab,”Dari Google, Pak.”
Peristiwa seperti ini kerap terjadi dalam kinerja dunia jurnalistik. Mencari tahu data pribadi seorang tokoh ternama bukan hal sulit di era Teknologi Informasi (TI) seperti saat ini. Klik saja situs pencari seperti Google, Alta Vista, atau Yahoo. Ketik nama tokoh yang bersangkutan, akan keluarlah semua data yang berhubungan dengan tokoh tadi. Mencari foto juga bukan perkara sukar. Kian popular nama seseorang, kian banyak data dan informasi yang bisa kita dapat di dunia maya.
Bagi wartawan atau profesi lain yang mengandalkan pencarian data, situs pencari alias search engine merupakan temuan paling membantu abad ini. Google, misalnya, bisa menelusuri seantero jagat maya hingga 8.058.044.651 halaman website. Weblog, jurnal harian pribadi, atau milis sekalipun tidak luput dari pencarian ini. Singkatnya, situs pencari serupa Google tak ubahnya sebuah bank data yang bisa diakses siapa saja. Chris Hoofnagle, penasihat senior dari Electronic Privacy Information Center menyebut Google sebagai salah satu pembocor privasi terbesar di Internet.

Interaksi
Sejauh manakah privasi kita bisa terjaga di dunia maya? “Semua tergantung pada bagaimana seseorang berinteraksi dengan Internet. Seperti misalnya database dalam halaman milis yang mencantumkan tanggal lahir, alamat, dan sebagainya. Itu semua informasi yang sifatnya pribadi,”ujar Ahmad Husni Thamrin, pemerhati TI yang tengah mengambil program doktoral di Keio University, Jepang kepada SH, Rabu (27/7) saat dihubungi melalui Yahoo Messenger.Makin sering seseorang berinteraksi dengan Internet, makin banyak pula data dirinya yang tersimpan di dunia maya tersebut.
Sebagai contoh, orang yang memiliki weblog bisa saja secara sengaja mencantumkan alamat dan nomor telepon seluler (ponsel), bahkan alamat dan foto. Begitu pula peserta milis yang dengan senang hati menaruh semua data pribadinya di database milis yang bersangkutan. Namun, tak jarang terjadi justru orang lain yang meng-online-kan semua data pribadi kita tanpa kita ketahui atau beri izin. Inilah yang bisa terlacak oleh situs pencari sehingga siapa saja yang memang sengaja mencari data kita bisa dengan mudah mendapatkannya.
Lalu, akankah data pribadi ini disalahgunakan oleh orang lain? Jawabannya selalu saja mungkin. Internet merupakan suatu belantara yang bebas merdeka diakses oleh siapapun. Jika kebetulan orang berpikiran negatif dengan maksud buruk memanfaatkan data tersebut, tak ada yang bisa mencegah. Inilah yang memungkinkan terjadinya segala jenis kejahatan di Internet alias cybercrime.“Selama Uniform Resouce Locator (URL)-nya bisa di-link oleh URL lain serta tidak disertai password, situs pencari semacan Google akan selalu bisa melacaknya,” jelas Ahmad yang alumni Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Jaga Privasi
Namun riskannya situs pencari Google terhadap penyalahgunaan data ditangkis oleh Nicole Wong, penasihat umum Google. “Secara umum sebagai sebuah perusahaan, kami selalu memandang privasi dari sisi manapun kami bekerja,” ungkapnya seperti yang dikutip AP baru-baru ini. Maksudnya, dari mulai manajer produk, pakar teknis hingga eksekutif selalu mempertimbangkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap privasi pengguna.
Wong menyebut pihaknya selalu menanggapi komentar dari sejumlah kalangan pemonitor kinerja mereka seperti Center for Democracy and Technology dan Electronic Frontier Foundation. Keduanya selalu memonitor sejauh mana hasil pencarian data Google masih dalam batas yang dikehendaki.
Google memiliki ketentuan bahwa hanya sebagian saja dari karyawannya yang memiliki akses ke data personal. Tapi, kita punya batasan sendiri-sendiri mengenai apa itu yang layak disebut sebagai privasi.Menurut Wong, Secara otomatis Google merekam semua informasi ke nomor Internet Protocol (IP) pengguna serta nomor ID yang tersimpan dalam web browser. Makin sering data tersebut diakses orang, makin besar pula kemungkinannya muncul dalam hasil pencarian.
Tidak ingin sembarang orang menghubungi Anda melalui ponsel atau email pribadi? Kalau memang demikian, janganlah sembarang meng-online-kan data itu. Tapi kalau memang ingin popular dan dikenal seantero dunia maya, silakan saja memperintim hubungan Anda dengan Internet. Semua tergantung pada keputusan Anda. **Copyright © Sinar Harapan 2003

Monday, August 22, 2005

Model Bisnis dari Online Publishing

Ketika dotcom mulai naik daun, Online publishing dianggap sebagai salah satu peluang bisnis. Situs web dibuat, artikel dikumpulkan dan didistribusikan. Akan tetapi sampai saat ini ternyata masih belum terbukti. Bisnis tidak kunjung datang.

Technology Research News (TRN) merupakan salah satu contoh upaya bisnis online publishing ini. Ternyata mereka pun kesulitan dan menanyakan kepada pembaca situs slashdot (/.) tentang model bisnis yang cocok dengan mereka. Kalau diperhatikan lebih lanjut, jumlah orang yang berada di belakang TRN ini juga tidak banyak. Mereka hanya memiliki dua orang editor, dan beberapa pekerja lainnya. Setahu saya jumlahnya di bawah 10 orang. Apakah karena gaji di luar negeri yang mahal yang menyebabkan model bisnis ini tidak jalan? Bagaimana kalau dikerjakan di Indonesia? Apakah tetap tidak ada bisnisnya?

Mungkin technomedia readers ada yang tertarik?

Saya pribadi memiliki beberapa ide model bisnis seperti ini. Sudah lebih dari 5 tahun ide tersebut saya endapkan karena belum sanggup mengeksekusi (terlalu sibuk). Mungkin suatu saat saya akan nekad mengeksekusinya lagi.

(BR, aka Mr. GBT)

Thursday, November 18, 2004

Copy Protection audio CD?

Kemarin saya membeli CD terbaru dari Ada Band (Album "Heaven of Love", lagu yang paling saya suka adalah "Manusia Bodoh". Silahkan beli. Tidak menyesal.). Asli tentunya. Dalam CD ini ada petunjuk penggunaan CD yang mengatakan bahwa CD ini menggunakan Copy Protection Technology sehingga tidak bisa di-copy.

Saya masukkan CD ke komputer saya. Memang langsung ada sebuah player bawaan yang langsung menjalankan lagu-lagu dari CD tersebut. Tapi apakah CD ini memang memiliki perlindungan anti bajakan? Ternyata tidak! Saya tinggal menjalankan program Windows Media Player versi 10 yang langsung bisa melakukan "ripping" terhadap CD tersebut, menjadi format MP3. So much for copy protection technology.

Cara yang lebih baik adalah melakukan edukasi dan pricing yang pas sehingga orang-orang terbiasa membeli karya asli. Harga Rp 25.000,- sampai dengan Rp 35.000,- per CD menurut saya sudah cukup baik sehingga ada willingness to pay untuk CD asli. Selain suara CD bagus, gambar cover bagus, dan ada perasaan mendukung musik Indonesia. Sayang, harga CD barat masih di atas itu sehingga orang lebih suka membeli bajakan.

Tuesday, November 09, 2004

Media baru, teknologi, dan jurnalisme

Akhir-akhir ini saya mulai banyak melihat tulisan (buku, situs web) yang membahas dampak teknologi terhadap jurnalisme. Saya sendiri tidak mengerti bidang jurnalisme, tetapi lebih banyak bergelut di dunia teknologinya. Contoh teknologi baru yang 'dipermasalahkan' antara lain adalah Internet, blog dan RSS. Soal Internet tidak perlu saya bahas karena sudah banyak pembahasannya.

Fenomena blog mirip dengan euforia pada awal munculnya World Wide Web. Orang rame-rame membuat homepage (waktu itu nama kerennya memang homepage). Hanya bedanya waktu itu untuk membuat sebuah homepage dibutuhkan kemampuan menulis artikel dalam format HTML. Sekarang, untuk membuat sebuah blog sudah sangat mudah. Kita tinggal mengetikkan isinya seperti menulis dengan menggunakan wordprocessor. Akibatnya, siapa saja dapat menjadi penulis dengan pembaca dari seluruh penjuru dunia. Penulis ini bisa menjadi wartawan (amatir?). Mengapa perlu mengirimka seorang wartawan ke tempat kejadian kalau kita bisa mengambil informasi dari blog orang yang memang berasal dari tempat kejadian?

RSS merupakan singkatan dari Really Simple Syndication. Secara sederhananya, blog (atau situs web) dapat menyediakan mekanisme untuk melakukan sindikasi dengan mudah. Anda dapat mengambil artikel dari berbagai tempat dan melakukan konsolidasi secara otomatis dengan menggunakan RSS ini. Artinya, anda bisa membuat portal yang isinya ditarik dari berbagai tempat dengan menggunakan RSS ini. Untuk membuat seperti detik.com hanya membutuhkan waktu singkat (kurang dari 1 hari?).

Apakah media konvensional masih dibutuhkan? Saya jadi ingat lagu lama dari the Buggles, "Video killed the Radio Star". Ternyata tidak menjadi kenyataan. Bahkan MTV makin mempopulerkan radio star. Nampaknya media konvensional masih akan dibutuhkan. Tapi soal anda dibutuhkan atau tidak, itu lain cerita.

Friday, October 08, 2004

Mengelola milis ternyata tidak mudah

Membuat mailing list (milis) sangat mudah. Apalagi adanya fasilitas milis yang diberikan oleh Yahoogroups sungguh sangat memanjakan pengelola milis.

Namun ternyata mengelola milis yang baik dan disukai oleh pelanggannya tidak mudah. Ada saja anggota yang sering ngerecokin dengan tulisan yang tidak berguna, cross posting dari milis lain, ngajak berantem melulu, one-liners, dan hal-hal lain yang menyebalkan sehingga banyak anggota yang akhirnya memilih untuk unsubscribe dari milis tersebut.

Yang menyebalkan ini sebetulnya jumlahnya tidak banyak. Orangnya sih itu-itu saja. Tapi anehnya, orang jenis ini tidak mengerti kalau disindir atau ditegur secara halus. Apa harus dikatakan secara eksplisit?

Apa saran-saran dan tips anda agar pengelolaan milis bisa optimal?

Monday, July 05, 2004

Pemilihan Presiden, Akhirnya ....

Oleh Wicaksono, wartawan Koran Tempo

Indonesia mengukir sejarah baru hari ini 5 Juli 2004. Untuk pertama kalinya sejak merdeka, rakyat melakukan pemilihan presiden secara langsung. Pelaksanaannya tepat seperti yang sudah dijadwalkan semula oleh Komisi Pemilihan Umum. Meski pemilihan susulan terpaksa dilakukan di beberapa tempat, perhelatan lima tahunan itu tak perlu mundur atau bahkan batal seperti dikhawatirkan semula.

Berbeda dari pemilu legislatif yang lalu, acara kemarin terlihat relatif lebih sepi. Ada dua kemungkinan. Pertama, banyak yang telat bangun karena menonton siaran langsung Piala Eropa antara Portugal dan Yunani pada dini hari.

Kemungkinan lain, tata cara pemilihan kali ini lebih sederhana ketimbang pemilu legislatif. Para pemilih cukup mencoblos satu kertas suara berisi gambar dan nama lima pasangan yang sudah dikenal. Waktu yang dihabiskan di bilik suara pun lebih singkat. Akibatnya, tak terlihat antrian di tempat pemungutan suara.

Meskipun demikian, pelaksanaan pemilihan presiden boleh dikatakan berlangsung aman dan lancar. Berjuta-juta orang yang terdaftar sebagai pemilih bebas menggunakan haknya di seluruh penjuru negeri, dari Aceh hingga Papua, tanpa gangguan berarti. Kita patut berterima kasih, bukan hanya kepada pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum, melainkan juga kepada semua pelaksana di lapangan yang bekerja dengan ikhlas demi suksesnya acara.

Memang, tak ada gading yang tak retak. Seperti pemilu terdahulu, masih saja ada beberapa cacat yang mestinya tak perlu terjadi. Praktek curang semacam serangan fajar, upaya partai politik membeli suara menjelang saat pencoblosan, masih terjadi di beberapa tempat. Kita berharap kepada yang berwenang untuk menindak para pelakunya dengan tegas dan menghukumnya sesuai dengan undang-undang. Insiden seperti ini tak perlu terjadi lagi di masa mendatang, karena hanya akan mencoreng demokrasi.

Sebentar lagi, kita akan bisa melihat hasil penghitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum. Hasil penghitungan suara yang sekarang ini belum final. Ada kemungkinan pemilihan akan berlanjut ke putaran kedua September nanti, karena tidak ada pasangan calon yang memperoleh suara di atas 50 persen.

Apa pun hasilnya nanti, kita harus menerimanya. Seandainya ada yang merasa telah terjadi kecurangan, silakan menyalurkannya melalui mekanisme yang telah diatur undang-undang. Tak perlu ribut atau gontok-gontokan. Kita akan mengucapkan selamat kepada siapa pun yang keluar sebagai pemenang. Calon yang kalah juga harus menerima kekalahan dengan lapang dada. Beginilah demokrasi, Bung! ***




Gubernur Abdullah Puteh Harus Nonaktif

Oleh Wicaksono untuk Koran Tempo

Komisi Pemberantasan Korupsi sudah menetapkan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdullah Puteh sebagai tersangka dalam kasus korupsi pembelian helikopter jenis MI-2 pada 28 Juni 2004. Komisi menetapkan status tersebut setelah memeriksa Puteh dan pejabat lain yang diduga terkait dalam kasus yang sama, di antaranya kepala kas dan bendahara Aceh.

Dalam kasus ini, Puteh diduga melakukan penggelembungan (mark up) harga helikopter jenis MI-2 merek PLC Rostov yang dibeli oleh Pemerintah Provinsi NAD dari PT Putra Pobiagan Mandiri pada tahun anggaran 2002. Helikopter ini dibeli dengan cara penunjukan langsung kepada PT tersebut.

Indikasi mark up itu muncul, menurut Komisi, karena pemerintah Aceh membeli helikopter tersebut senilai Rp 12,5 miliar. Padahal, untuk jenis helikopter yang sama, TNI Angkatan Laut membelinya dengan harga cuma Rp 6 miliar pada 2002. Komisi menduga Puteh mengantongi sekitar Rp 4 miliar dari pembelian heli itu.

Puteh sebenarnya juga sedang diperiksa dalam korupsi proyek genset senilai Rp 30 miliar. Dalam kasus ini Puteh diduga kuat terlibat korupsi yang merugikan negara lebih dari Rp 6 miliar. Proyek genset itu semula dimaksudkan untuk membantu masyarakat karena gardu pemasok dari PLN dibakar oleh GAM. Genset sudah dipasang, tetapi masyarakat tetap belum menikmati aliran listrik yang normal. Ternyata, genset yang didatangkan tidak sesuai dengan kebutuhan dan menyalahi kontrak.

Kontraktor pengadaan genset, William Taylor, sudah ditahan dalam kasus ini. Dari Taylor pulalah diketahui, sejumlah dana dikucurkan ke beberapa pejabat di Aceh. Berdasarkan pengakuan Taylor ini polisi kemudian memeriksa beberapa pejabat Aceh yang bersama Puteh diduga terkait dengan kasus korupsi itu, yakni Wakil Gubernur Azwar Abubakar, Sekretaris Daerah Tantowi, dan Kepala Biro Keuangan Tengku Lizam. Sejauh ini, Puteh belum ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus proyek genset.

Dari dua kasus itu jelas terlihat bahwa Puteh tak sendirian. Ada pejabat Aceh lain yang diduga terkait dengan kasus korupsi yang menjadikan Puteh sebagai tersangka. Komisi dan polisi seyogianya juga segera mengumumkan tersangka lain dalam waktu dekat. Aneh bila tidak. Mustahil Puteh melakukan korupsi sendirian. Apalagi bila itu menyangkut proyek besar dan melibatkan pihak ketiga.

Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno pernah mengatakan, Puteh bisa saja dinonaktifkan sebagai gubernur jika ia sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kini hal itu sudah terjadi. Kita menunggu apakah Menteri Hari Sabarno akan benar-benar menonaktifkan Puteh dan pejabat-pejabat lain di lingkungan Provinsi NAD jika statusnya sudah menjadi tersangka.

Seandainya Menteri Hari tak juga melakukannya, kita berharap Komisi segera memerintahkan Menteri Hari untuk melakukannya, sesuai dengan haknya dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi.

Penonaktifan Puteh dan para pejabat lainnya yang sudah berstatus tersangka itu demi memperlancar pemeriksaan untuk menuju proses peradilan. Seandainya dalam proses pemeriksaan ternyata tidak ada bukti yang cukup untuk membawa Puteh ke pengadilan, ia bisa diaktifkan kembali. Namun, bila ternyata Puteh meningkat statusnya menjadi terdakwa dan harus diadili, apalagi sampai dihukum, bukan saja nonaktif, tetapi ia harus langsung diganti. Begitu juga dengan pejabat lainnya. Komisi dan polisi harus memperlakukan hal yang sama dan tidak pilih kasih. ***

Atasi Segera Kebakaran Hutan

Oleh Wicaksono untuk Koran Tempo

Bencana kebakaran hutan datang lagi di musim kering tahun ini. Asapnya menutup pandangan dan mengganggu kesehatan di sejumlah daerah. Di Riau, misalnya, asap kebakaran membuat sejumlah penerbangan dihentikan. Warga diimbau tak keluar rumah bila tak ada kepentingan mendesak supaya terhindar dari infeksi saluran pernapasan atas. Asap akibat kebakaran hutan di Indonesia juga terbang dan menurunkan derajat kesehatan lingkungan negeri tetangga, Singapura dan Malaysia.

Kebakaran hutan adalah bencana yang terjadi setiap tahun, khususnya pada musim kering. Kebakaran yang cukup besar pernah terjadi di Kalimantan Timur pada 1982/1983. Waktu itu sekitar 3,5 juta hektare hutan hangus. Ini rekor terbesar kebakaran hutan dunia setelah kebakaran hutan di Brasil yang mencapai 2 juta hektare pada 1963. Rekor dipecahkan oleh kebakaran di beberapa wilayah Indonesia pada 1997/1998 yang melalap 11,7 juta hektare hutan.

Bencana itu terus berlangsung setiap tahun, meskipun luas areal yang terbakar dan kerugian yang ditimbulkannya relatif kecil dan umumnya tidak terdokumentasi dengan baik. Data dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menunjukkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi tiap tahun sejak 1998 hingga 2002 tercatat berkisar antara 3.000 hektare dan 515 ribu hektare. Karena itu, kebakaran hutan tetap merupakan isu lingkungan yang penting.

Selain karena faktor alamiah, sudah jamak diketahui bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah kegiatan manusia, di antaranya sistem perladangan tradisional dari penduduk setempat yang berpindah-pindah, yang menggunakan metode pembakaran untuk membuka lahan. Namun, pembukaan lahan untuk perladangan tersebut umumnya sangat terbatas dan terkendali, karena telah mengikuti aturan turun-temurun.

Kebakaran yang lebih luas sangat mungkin terjadi karena kegiatan perladangan yang sebenarnya hanya kedok dari penebang liar yang memanfaatkan hak pengusahaan hutan (HPH) dan berada di kawasan HPH. Mereka bisa dari kalangan pemegang HPH untuk industri kayu maupun perkebunan kelapa sawit.

Mereka melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar semata berdasarkan pertimbangan ekonomis: cepat, murah, dan praktis. Selain itu, perkebunan besar melakukan pembakaran lahan untuk menaikkan derajat keasaman (pH) tanah. Pada kasus Riau, pembakaran hutan dilakukan karena pada umumnya tanahnya bergambut dengan pH 3-4 dan tidak cocok untuk ditanami kelapa sawit.

Celakanya, pemakaian metode itu sering berakibat kebakaran tidak hanya terbatas pada areal yang disiapkan untuk pengembangan tanaman industri atau perkebunan, tetapi meluas ke hutan lindung, hutan produksi, dan lahan lainnya. Karena itulah, sudah sepantasnya bila mereka dituding sebagai biang keladi kebakaran hutan.

Untuk itu, pemerintah pusat maupun daerah sebaiknya langsung mengambil tindakan yang nyata dan segera terhadap mereka, mumpung kebakaran hutan tahun ini belum begitu meluas. Jangan setengah-setengah, apalagi main mata dengan mereka.

Beberapa upaya nyata yang bisa dilakukan, antara lain melarang dengan tegas metode pembakaran dalam land clearing, mencabut izin usaha perusahaan yang melakukan pembakaran dalam pembukaan lahan. Hukum para penjahat lingkungan secara proporsional.

Jangan lupa, jatuhkan denda yang besar bagi perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran. Uang denda ini bisa dipakai untuk memadamkan api. Bagi masyarakat yang menjadi korban asap, pemerintah perlu membuka posko kesehatan di setiap kecamatan dan menyediakan pengobatan gratis. ***


Thursday, June 24, 2004

Survei dan Statistik

Oleh Wicaksono untuk Koran Tempo

Seperti halnya tim-tim peserta Piala Eropa, para kandidat presiden juga bisa dilihat berdasarkan hasil survei dan statistik. Survei dan statistik mencerminkan penampilan selama pertandingan dan dapat dipakai untuk meramalkan hasil akhir, meski tidak selalu tepat.

Hasil survei yang dilakukan International Foundation for Election System (IFES) pada 4-7 Juni 2004 menunjukkan, popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih tetap yang tertinggi. SBY mirip Prancis. Sebagai juara bertahan, Zidane dkk cukup konsisten. Setelah menggulung Inggris 2-1, dan ditahan 2-2 oleh Kroasia, Prancis mendepak Swiss 3-1. Penampilan Les Blues yang nyaris tanpa cacat, seperti SBY, membuat mereka diunggulkan lagi jadi juara. Mungkin hanya Dewi Fortuna yang mampu membuyarkan impian mereka.

Dari survei yang sama, terungkap bahwa Amien Rais memperoleh peningkatan popularitas paling pesat dibandingkan kandidat lainnya. Dibandingkan survei sebelumnya pada 20 April-8 Mei, dukungan untuk Amien meningkat 5 persen menjadi 9,8 persen. Hasil survei Lembaga Kajian Demokrasi (LkaDe) menunjukkan hasil yang kurang lebih sama. Selama periode akhir Mei hingga pertengahan Juni, popularitas pasangan calon presiden Amien-Siswono meningkat 4,4 persen menjadi 21,1 persen.

Amien mengingatkan saya pada Portugal. Setelah kalah 2-1 dari Yunani pada partai pertama, grafik permainan Portugal naik terus. Mereka menggilas Rusia 2-0 dan memukul Spanyol 1-0. Kemarin pagi, Figo dkk bahkan menundukkan tim kuat Inggris lewat adu penalti. Ada kemungkinan Portugal bertemu Prancis di partai final sebagaimana halnya SBY bisa jadi bertemu Amien di putaran kedua pemilihan presiden September nanti.

Popularitas Wiranto, menurut IFES, meski di atas Amien, cenderung stagnan. Wiranto kurang populer, menurut LkaDe, karena responden memiliki sentimen antimiliter. Wiranto juga dinilai terkait kasus pelanggaran HAM. Seperti Belanda yang punya nama besar, tapi permainannya kurang meyakinkan - menahan Jerman 1-1, kalah 2-3 dari Ceko, dan baru menang 3-0 dari tim lemah Latvia - peluang Wiranto pun masih meragukan, meski kemungkinan terjadi kejutan.

Sementara itu, berdasarkan survei IFES, popularitas Megawati Soekarnoputi berada di urutan ketiga, setelah SBY dan Wiranto. Jajak pendapat LkaDe menyebutkan, dari para responden yang tidak memilih Megawati, 38,55 persen di antaranya mengaku kecewa dengan kinerja pemerintah saat ini. Megawati juga dianggap gagal memperbaiki kondisi ekonomi.

Banyak pecandu bola yang juga kecewa melihat penampilan Jerman. Punya tradisi bagus di tingkat dunia, Jerman tiga kali juara dunia, bintangnya meredup kali ini. Mereka hanya mampu menahan imbang Belanda 1-1 dan tim "kemarin sore" Latvia tanpa gol. Tim asuhan Rudi Voeller ini bahkan takluk 1-2 oleh Ceko dan terpaksa angkat kaki pagi-pagi. Jerman gagal memperbaiki penampilan mereka.

Berdasarkan data Panitia Pengawas Pemilu, Megawati yang menggandeng Hasyim Muzadi tercatat sebagai pasangan yang paling banyak dilaporkan telah melanggar aturan. Dalam soal pelanggaran, pasangan ini menyamai Swiss yang paling banyak mendapat kartu merah, yakni dua buah. Langkah Swiss terhenti di babak pertama setelah kalah dua kali dan sekali seri.

Bagaimana dengan Hamzah Haz? Dukungan untuk Hamzah cenderung tetap sejak survei pertama IFES, yaitu sekitar 2 persen pada posisi terendah dan tertinggi 6 persen. Kini, calon dari Partai Persatuan Pembangunan ini cuma memperoleh dukungan dua persen. Dia mengingatkan saya pada Bulgaria yang tak pernah menang melawan tim mana pun.

Hasil survei dan statistik di atas akan terbukti nanti setelah 5 Juli 2004, setelah babak final Euro selesai, sesudah kotak-kotak suara dibuka dan dihitung. ***

Mengapa Saya Pilih Euro

Oleh Wicaksono untuk Koran Tempo

Saya suka menonton Piala Eropa 2004 karena beberapa perihal. Yang pertama, lantaran tim-tim yang bertanding umumnya mematuhi asas fair play. Begitu juga dengan para pemainnya. Ada memang satu dua pemain yang bermain keras, mengganjal lawan. Tapi lihat sesudah itu, mereka pasti saling bersalaman, berangkulan, dan berebut bola lagi, seolah tak terjadi apa pun sebelumnya. Tiada ada dendam. Tak ada gontok-gontokan.

Sebaliknya, saya malas mengikuti berita-berita seputar kampanye para kandidat presiden dan wakilnya atau melihat penampilan mereka di televisi. Kegiatan mereka paling itu-itu saja. Kalau tak mengunjungi suatu tempat (lapangan, kampus, mal atau pasar), orasi obral janji, ya debat di televisi. Sedikit variasi ketika ada dua calon presiden yang menyanyi di panggung Grand Final Akademi Fantasi Indosiar. Selebihnya membosankan.

Di masa kampanye, asas fair play ditinggalkan. Tim para calon saling serang dengan cara yang tak sehat dan elegan. Ada masanya ketika mereka saling berbalas isu, melempar fitnah, demi mengurangi kredibilitas pesaingnya. Ada juga yang berperang fatwa, tapi malah bikin bingung umat.

Debat antarkandidat, seperti halnya pertandingan antara dua kesebelasan, juga biasa-biasa saja. Tak ada debat yang seru dan menegangkan. Katakanlah para calon adu argumentasi dengan alasan-alasan yang masuk akal. Yang terjadi sekarang ini, kalau ditanya oleh panelis atau penonton, jawaban mereka normatif. Tak jarang jauh panggang dari api. Semua berjanji, contohnya, membasmi korupsi, tapi tak ada penjelasan bagaimana melakukannya. Nyaris tak terdengar pemikiran kandidat yang inspiratif, sugestif, dan bisa mengajak orang merenung. Monotonlah pokoknya.

Jauh berbeda bila dibandingkan dengan pertandingan antara, ambil contoh, Ceko lawan Belanda dan berakhir dengan skor 3-2. Atau saat Portugal mengandaskan Spanyol dengan skor 1-0. Atau sewaktu Inggris menghempaskan Kroasia 4-2.

Lihat bagaimana anak-anak Ceko tanpa kenal menyerah dan putus asa menggedor pertahanan Belanda. Permainan berlangsung keras, tapi tidak kasar. Pemain kedua tim mempertontonkan gerakan-gerakan yang menawan.

Meski kalah, Raul Gonzales dkk juga bertarung seperti banteng terluka tombak matador. Fernando Tores pun masih sempat memperlihatkan aksi-aksi individual yang mencengangkan. Ia piawai menggoreng bola, mengumpan dengan tumit dan menembak laksana kanon memuntahkan peluru. Pendeknya, aksi-aksi para pemain itu mengasyikan dan enak ditonton. Aksi para calon presiden? Maaf, meminjam istilah anak sekarang, udah basi, tau!

Jangan lupa, menonton Euro di TV itu sangat menyegarkan. Lebih-lebih ketika mata mulai lelah dan ngantuk memelototi layar kaca pada dini hari. Juru kamera yang menayangkan pertandingan suka jahil. Sebagai selingan, sesekali mereka mengarahkan kamera ke arah penonton-penonton perempuan cantik berpakaian minim. Pemandangan ini jelas punya daya tarik tersendiri atau dalam istilah pelawak Asmuni, "Sueujuuuk!".

Bila dibandingkan, penampilan para kandidat presiden jelas kalah menarik. Memang ada yang berkumis, mengaku cantik, atau pandai menyanyi. Tapi saya tak tergoda. Kemampuan mereka mengelola pemerintahan jauh lebih penting.

Lebih dari semua itu, saya suka menonton Piala Eropa karena hanya pada waktu itulah saya bisa menguasai televisi - dalam arti yang sebenar-benarnya. Istri saya yang suka sinetron dan anak-anak yang senang film kartun -- dan di sore hari memonopoli remote control -- sudah tidur semua. Sekarang saya bebas berlama-lama di depan tv tanpa terusik. Nikmat betul hidup ini sejak ada Euro .... ***

Monday, June 21, 2004

Mengapa Bukan Mega

Oleh Wicaksono untuk Koran Tempo

Kawan saya yang suka usil itu datang lagi. Dari wajahnya yang cengengesan, saya tahu, dia pasti mau iseng lagi. Tebakan saya yang tak meleset. "Sudah nonton Euro, Bung?" Bisa enggak, sampeyan sejajarkan tim-tim itu dengan para kandidat presiden?" Kawan saya langsung memberondong dengan pertanyaan jahil. Setengah ogah-ogahan saya jawab sekenanya. "Ah, kecil itu....!"

Italia itu seperti Wiranto. Keduanya tercipta dari sebuah kompetisi yang ketat: Liga Italia Seri A dan konvensi Partai Golkar. Track record mereka pun cukup meyakinkan. Berdiri sejak 1898, Tim Azzuri adalah juara Piala Eropa 1968 dan kampiun Piala Dunia 1934, 1938, dan 1982.

Begitu pula dengan Wiranto. Pernah menjadi ajudan bekas orang nomor satu Indonesia Soeharto, karier Wiranto menanjak terus, dari Panglima Kodam Jaya, Panglima Komando Strategi Angkatan Darat, Kepala Staf Angkatan Darat, Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima TNI, dan terakhir menjadi Menteri Politik dan Keamanan.

Keduanya memiliki corak permainan yang mirip. Tradisi sepak bola Italia adalah bertahan, catennacio. Gaya ini mereka pertahankan selama bertahun-tahun, sampai kemudian pelatih tim nasional Italia Giovanni Trapattoni memberi sentuhan corak permainan baru.

Wiranto kini juga harus defensif menghadapi terpaan pelbagai isu, dari soal pelanggaran HAM di Timor Timur hingga soal Pam Swakarsa. Lawan-lawan politiknya nyaris tanpa henti menggoyang Wiranto, termasuk mengedarkan video yang isinya menjelek-jelekkan Wiranto.

Si kuda hitam Denmark lebih mirip Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. Denmark baru menyodok ke jajaran tim elit dunia sekitar 1970-an. Padahal federasi sepak bolanya sudah berdiri sejak 1889. Revolusi sepak bola Denmark ditandai oleh kemunculan Allan Simonsen yang terpilih sebagai pemain terbaik Eropa pada 1977.

Sejak itu Denmark sering disebut-sebut sebagai tim dinamit yang siap memporak porandakan tim-tim tangguh, seperti yang pernah ditunjukkannya pada Piala Dunia 1986. Waktu itu di bawah asuhan pelatih Sepp Piontek, Denmark muncul sebagai kekuatan baru dengan pemain-pemain seperti Morten Olsen, Preben Elkjaer, dan Michael Laudrup yang ketika itu baru berusia 19 tahun.

SBY juga begitu. Pada mulanya SBY bukan siapa-siapa di ranah politik. Dia baru memperoleh perhatian dan simpati secara luas ketika teraniaya. Itu terbukti setelah Partai Demokrat yang mendukungnya mampu menyodok partai-partai politik lama dalam pemilu legislatif.

Namun, SBY belum benar-benar teruji sebagai pemimpin politik seperti halnya Denmark yang juga belum sekalipun menjuarai Piala Dunia. Meskipun demikian, bukan tak mungkin ia bisa menjadi kuda hitam yang perlu diwaspadai lawan-lawannya - persis seperti Denmark.

Pada pertemuan pertama di babak penyisihan Euro 2004, Italia dan Denmark bermain imbang 0-0. Akankah persaingan Wiranto-SBY di ajang pemilihan presiden berakhir dengan skor sama?

Kalau tim Bulgaria kurang lebih sama dengan Hamzah Haz. Peluangnya paling banter hanya sampai babak pertama. Fakta berbicara. Baru sekali main, anak-anak Bulgaria langsung dihajar Swedia 5-0.

Prancis mengingatkan saya pada Amien Rais. Tim juara bertahan ini makin hari makin matang saja permainannya - seperti Amien yang kian tenang penampilannya. Sayang, Dewi Fortuna kadang ogah menghampiri mereka.

"Kenapa Amien Rais, Bung? Mengapa bukan Megawati yang mirip Prancis? Bukankah Prancis dan Mega sama-sama juara bertahan? Sampeyan tim sukses Amien, ya?" tanya kawan saya curiga.

"Bukan begitu, Bung!" jawab saya. "Asal tahu saja, sepanjang sejarah Piala Eropa, belum pernah ada tuh, tim perempuan." Kawan saya melongo. ***

Tim Para Kandidat 2004

oleh Wicaksono untuk Koran Tempo

SEORANG kawan mengajukan pertanyaan menggoda. "Seandainya sampeyan manajer salah satu tim sepak bola dan mempunyai pemain yang terdiri dari para kandidat presiden dan wakil presiden Indonesia, bagaimana sampeyan akan menyusun tim?"

Sedetik saya terperangah. Saya tahu, ia pasti bercanda. Maklum, sekarang lagi lagi hangat-hangatnya kampanye para calon presiden dan wakilnya. Saat yang sama, di Portugal sana, ada kejuaraan yang membuat jutaan pasang mata memelototi televisi setiap hari: Piala Eropa 2004. Sudah jamak, orang biasanya suka mengkaitkan-kaitkan dua momen itu, meskipun ada kesan mengada-ada. Tapi bolehlah, buat iseng-iseng apa salahnya? Apalagi, kawan saya itu, terlihat penasaran begitu saya bilang, "Ah, gampang itu."

Pertama, Megawati Soekarnoputri akan jadi pilihan pertama saya di bawah mistar gawang. Mega saya pilih supaya tak perlu berlari ke sana kemari menggiring bola, mengirim umpan, menciptakan peluang, dan melesakkan bola ke gawang lawan. Cukup jaga gawang saja supaya tak kebobolan. Peran ini cocok seperti yang ditunjukkannya selama ini sebagai presiden. Diam dan pasif. Biarlah peran mengatur serangan, memutuskan tempo permainan, dan urusan mencetak gol dilakukan pemain lain.

Untuk pemain belakang, saya pilih Salahuddin Wahid, Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Hasyim Muzadi. Sebagai eks tentara, jelas Wiranto dan SBY cakap mengamankan apa saja, termasuk gawangnya. Mereka pasti tak kenal kompromi.

Salahuddin dan Hasyim juga duet yang tak bisa dipandang enteng. Hasyim Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, organisasi massa besar dengan pengikut jutaan nahdliyin. Solahuddin juga orang NU, sekaligus eks anggota kelompok pecinta alam Wanadri. Apalagi dia adik Abdurrahman Wahid yang juga tokoh panutan NU. Kurang apa coba? Mereka pasti mampu menjinakkan serangan dari delapan penjuru angin, apa pun jenisnya, baik yang kasat mata maupun tidak. Tendangan geledek penyerang lawan pasti akan berhasil mereka redam dengan kesejukan.

Ada kurangnya memang. SBY dikenal sebagai orang yang peragu. Karena itu, ia perlu didampingi orang kuat, yang punya pengalaman memimpin pasukan seperti Wiranto yang mantan Panglima TNI. Tapi Wiranto punya banyak masalah, sehingga saya khawatir konsentrasi permainannya terganggu. Dia juga mesti didampingi orang yang dingin seperti SBY. Saya juga khawatir Salahuddin dan Hasyim kurang kompak menggalang pertahanan. Mereka bisa rebutan bola sendiri, seperti halnya mereka berebut suara para nahdliyin sekarang.

Agum Gumelar, Hamsyah Haz, Siswono Yudohusodo, dan Jusuf Kalla cukup jadi pemain tengah saja, sesuai yang mereka capai selama ini di pemerintahan. Mereka tak pernah jadi bintang, tapi tetap punya peranan, seperti kebanyakan para pemain tengah. Kalaupun mereka tak ada, roda pemerintahan toh tetap berjalan.

Nah, Amien Rais saya pasang sebagai striker. Sebagai politikus Amien terkenal pandai bermanuver. Ingat nggak sewaktu dia menggalang poros tengah untuk memuluskan jalan Abdurrahman Wahid ke Istana? Ia licin bagai belut kecebur oli. Tangkas berkelit dari sliding lawan. Kiper mana pun pasti terkecoh.

Memang ada kelemahannya. Sebagai orang yang dikenal bersih, Amien tentu kurang lihai melakukan diving untuk mengelabui wasit demi mendapatkan hadiah penalti. Tapi, siapa lagi kalau bukan dia yang cocok di depan?

"Oke, tapi satu lagi siapa? Pemain sepak bola kan harus sebelas, sementara sampeyan cuma punya 10?" kawan saya menyanggah.

"Ah, ini kan juga cuma seandainya ...." saya menjawab sambil berlalu. ***

Generasi yang Dimiskinkan

Merry Magdalena untuk Technomedia


“Apakah saya kalau sudah besar nanti bisa beli handphone seperti Mama?” Pertanyaan itu dilontarkan seorang anak perempuan delapan tahun bernama Libby. Sebuah pertanyaan simpel tapi cukup membuat saya berpikir panjang. Panjang sekali, sampai berhari-hari.

Waktu saya seusia Libby, saya tak pernah bertanya apakah kelak kalau sudah besar nanti sanggup membeli mobil atau rumah seperti bapak saya. Dulu saya pikir memiliki mobil dan rumah pribadi terjadi begitu saja pada setiap orang. Sama sekali tak pernah terlintas apakah kelak saya bisa mendapatkannya. Faktanya, sekarang saya sudah cukup dewasa, berpenghasilan tetap dan nyaris seusia bapak saya saat punya anak dulu. Apakah saya mampu membeli mobil atau rumah dengan jerih payah saya sendiri? Jawabnya cukup jelas di depan mata: TIDAK!

Dengan gaji saya saat ini, untuk menabung membeli mobil atau rumah di kawasan Jakarta adalah sangat tidak mungkin. Padahal saya bukan kaum duafa atau fakir miskin. Saya adalah kaum middle class. Berpenghasilan di atas UMR, memiliki handphone, bisa jajan ke Mc Donald, sesekali naik taxi, dan membeli pakaian bermerk luar. Pendidikan sarjana strata satu, bisa berbahasa Inggris, paham Internet dan komputer, menikmati film Hollywood di bioskop 21, membaca Harry Potter dan Lord Of The Ring. Singkatnya, sungguh sebuah kelas yang tak bisa dibilang miskin. Semua teman-teman seusia saya tak jauh beda kondisinya. Namun, kembali ke pertanyaan semua: Apakah kami sanggup membeli mobil dan rumah dengan uang kami sendiri?

Lalu saya mencoba beranalisa. Apa sebenarnya yang membuat kita yang berpenghasilan tetap lumayan ini begitu “miskin” sampai tak bisa membeli mobil dan rumah. Orangtua saya sampai sekarang tidak butuh handphone. Kalaupun bapak saya punya, itu karena dia mendapat hanphone bekas dari saya. Iuran pulsanya setiap bulan cukup disiplin, Rp.100.000 saja plus waktu tenggang tiga bulan. Bapak saya juga tidak perlu ke bioskop 21, membeli Harry Potter atau buku trend lainnya. Ia sama sekali tak tergoda untuk mampir ke Warnet untuk tahu apa itu email. Bapak saya juga tidak doyan Mc Donald, KFC, Pizza Hutt apalagi Komalas.

Kedua orang tua saya sama sekali tak ambil pusing kalau ada restoran waralaba luar yang baru buka. Semua kebiasaan ini sudah berjalan sejak mereka muda, jauh sebelum saya lahir. Tentu saja zaman itu belum ada Studio 21, Mc Donald, KFC, Chilli’s, Starbuck, dan sebagainya dan sebagainya. Belum diketemukan ponsel, laptop, DVD player, PDA, atau apapun itu.

Naik taxi pada era ibu saya dulu menjadi kemewahan tersendiri. Sangat bertentangan dengan gaya hidup saya sekarang dimana dengan mudah menyetop taxi hanya untuk sekadar ke mall atau janjian dengan teman. Zaman ibu saya muda dulu, sebelum mampu beli mobil, naik taxi hanya dilakukan dalam keadaan mendesak seperti ke rumah sakit atau terburu-buru karena ada sanak saudara meninggal.

Melihat fakta di atas maka jelaslah sudah kenapa orang tua saya mampu membeli mobil dan rumah sedangkan saya tidak. Mereka tak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli ponsel, pulsa ponsel, akses Internet, noton bioskop 21, menyewa dan membeli DVD, naik taxi keseringan, mengunjungi aneka gerai restoran waralaba, membeli pakaian bermerk, dan semua kebiasaan konsumtif bedebah itu. Hiburan mereka dulu hanya sebatas nonton ke bioskop biasa yang tiketnya standar. Naik taxi sesekali saja.

Kencan paling mewah kalau tidak ke rumah makan padang ya restoran masakan Cina. Tentunya semua bernilai rupiah, sebab belum ada restoran lisensi asing di era itu. Tempat wisata pun yang ada Taman Impian Jaya Ancol, Kebun Binatang Ragunan atau Taman Mini. Belum ada mall-mall, plaza-plaza, town square yang sarat dengan aneka belanjaan harga ratusan sampai jutaaan rupiah. Belum bertongolan pula beragam kafe yang menjajakan secangkir kopi senilai Rp.30.000 plus plus. Ditambah lagiera itu rupiah masih sedemikian kuat sampai-sampai menurut Ayu Utami tukang becak mampu membeli jeans Levi’s orisinil!!!

Dengan harga jeans Levi’s yang terjangkau oleh abang becak, bisa dibayangkan berapa harga mobil dan rumah masa itu. Tentulah amat sangat murah bagi ukuran kantong kita sekarang. (Jeans Levi’s orisinil sekarang berkisar antara 200.000-700.000 rupiah, sama dengan sebulan gaji pembantu hingga SPG).

Menyimak fakta-fakta di atas kian jelas sudah jawaban yang kita butuhkan. Yeah, sudah bisa dapat bayangan mengapa orang tua kita dulu mampu membeli mobil dan rumah sementara kita tidak, padahal kami sama-sama masuk golongan middle class. Orang tua saya dulu mendapat peluang lebih banyak untuk menabung membeli mobil dan rumah yang kebetulan zaman itu harganya sungguh terjangkau. Saya, juga jutaan generasi saya, dari kalangan middle class, tidak akan mampu memiliki mobil dan rumah hasil jerih payah sendiri.

Untuk kedua kebutuhan tersebut setidaknya saya harus bekerja ekstra keras dan mengurangi banyak kenikmatan. Kalau bisa double job dan mengirit, mengurangi pola hidup konsumtif. Namun dengan risiko dikucilkan dari teman sepergaulan saat ini, tubuh lebih ringkih akibat keletihan dan sakit-sakitan. Jalan lain adalah mengikuti undian berhadian, kuis, atau pasang lotere dan taruhan. Siapa tahu menang? Tapi katanya ini haram. Menjadi perampok bank? Carder? Pemeras? Hus, ini lebih haram lagi.

Atau mengharap warisan orang tua? Kalau kita berasal dari high class, itu tak jadi masalah. Ingat, saya berasal dari middle class dimana warisan tak terlalu bisa diharap bisa menopang masa depan.
Ada lagi solusi lainnya kalau ingin punya rumah dan mobil, yakni menikah dengan orang kaya atau setidaknya anak orang kaya. Buat yang ini saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau sudah begini, saya akan pusing tujuh keliling ketika anak saya kelak bertanya, “Ma, kalau saya sudah besar nanti apakah saya bisa membeli mobil dan rumah sendiri?” Barangkali saya akan segera mengekploitasi bakat anak saya itu dan segera menempanya menjadi artis seperti Joshua, Tasya atau Sherina. Rasanya itu solusi yang tidak haram. Solusi bagi sebuah generasi yang dimiskinkan oleh zaman.

Medio 2004,Pusat Jakarta.






Di Balik Peningkatan Kapasitas Email Yahoo

Merry Magdalena untuk Sinar Harapan

Pemilik akun email Yahoo boleh bergembira dengan peningkatan kapasitas mailboxnya. Jangan salah, ada jebakan tersembunyi di balik iming-iming semua email “impor” tersebut.
Pekan silam, para pemiliki alamat email di Yahoo bersorai gembira. Pasalnya mereka tak perlu lagi sibuk menghapus pesan-pesan dalam inbox ketika sudah mendapat peringatan bahwa inbox mereka terancam over quota. Kini, pemilik email di Yahoo bisa sedikit bersantai sebab kapasitas Yahoo yang mulanya hanya 6 MegaByte (MB) sudah ditingkatkan menjadi 100MB. Tentu saja ini gratis, tanpa dipungut biaya sedikit sepeserpun. Biasanya kapasitan inbox tak terbatas atau yang berkapasitas besar hanya bisa didapat dari email berbayar.

Boros Bandwidth
Pendongkrakan kapasitas ini bukan dilakukan Yahoo semata, namun juga Google. Web yang lebih popular dengan search engine ini akan membuka layanan Google Groups gratis demi menandingi Yahoo. Bahkan mereka akan memebri layanan email cuma-cuma pula sebesar 1 GygaByte (GB). Nama layanan email itu adalah Gmail. Portal lain yang tak kalah heboh menawarkan layanan gratis adalah milik Microsoft, yakni MSN. Jejaring satu ini juga sudah menyediakan fasilitas lumayan beragam. Mereka punya webmail khusus, Hotmail yang penggunanya tak kalah banyak dengan Yahoo. MSN juga populer sebagai search engine serta mailing list. Bahkan berkat dominasi Microsoft, semua layanan MSN selalu ada berikut dengan browser Internet Explorer (IE).
Yahoo selama ini tercatat sebagai portal dengan pengguna tertinggi di dunia.
Pada April lalu tercatat 39,8 juta pengguna Yahoo, disusul Hotmail (milik Microsoft Inc) dengan 34,6 juta pengguna, demikian Nielsen Net/Ratings. Hotmail hanya menyediakan 2 megabytes penyimpanan gratis kepada pengguna.
Portal berbasis server Amerika Serikat (AS) memang kian berlomba menawarkan layanan gratis. Ada apa gerangan? Sejumlah praktisi teknologi informasi (TI) mencurigai peningkatan kapasitas gratis itu hanya sebagai kiat server luar untuk mendongkrak penggunaan bandwidth.
“Kalau misalnya semua orang berpindah ke alamat email Yahoo, maka alur email kita akan berkisar di server luar negeri. Pengguna mailing list atau milis pun mayoritas memakai Yahoogroups,” ujar Anthony Fajri, Administrator Domain Name System (DNS) Institut Teknologi Bandung (ITB) saat dihubungi SH, awal pekan ini. “Karena mayoritas orang menggunakan email dan groups luar negeri, maka trafik Internet kita akan ramai di server luar.”
Hal ini sama saja kita memberi pemasukan devisa bagi server luar tersebut, dalam hal ini notabene AS. Makin besar kapasitas gratis yang diberikan, makin tergoda orang untuk menggunakan alamat email itu. Akibatnya, pengeklik portal seperti Yahoo, Hotmail atau Gmail terus membengkak jumlahnya. Anthony berpendapat, saat kita membuka alamat email di Yahoo, sama saja dengan melakukan transaksi bandwidth dengan ukuran bervariasi. Itu pula yang terjadi saat kita memakai fasilitas milis seperti Yahoogroups maupun Google Groups.
Solusi untuk menghemat badnwidth sebenarnya adalah dengan memanfaatkan email dari server lokal. Sebagai perbandingan, Anthony memberi gambaran bahwa sekali klik email Yahoo bisa berarti pemakaian bandwidth sebesar 50 KiloByte(KB), sedangkan email lokal hanya 5KB. Ini sama saja artinya dengan melakukan transaksi bandwidth sebesar 5 KB yang jauh lebih murah dibanding bandwidth luar.
Tak bisa dibantah bahwa pengguna alamat email impor seperti Yahoo atau Hotmail jauh lebih besar dibanding email lokal. Sony Arianto Kurniawan, Database Administrator Ciputra Cyber Institute beropini,”Sampai saat ini pengguna email lokal sekitar 30 persen, sedangkan 70 persennya masih memakai email luar. Alasannya, provider lokal sangat sedikit dan kebanyakan kurang reliable.” Jelas saja orang Indonesia lebih suka memakai akun email luar karena selain bisa didapat gratis, layanannya cukup reliable. Reliable yang dimaksud Sony adalah maintenance serta pertanggungjawaban atas fasilitas dan fiturnya sangat bagus.
Peningkatan kapasitas gratis juga akan menguntungkan Yahoo dan Google di bidang iklan. Para pemasang iklan akan kian berminat pada keduanya begitu mereka tahu adanya peningkatan kapasitas itu.

Kurang Reliable
Selain email, fasilitas milis merupakan “incaran empuk” portal luar. Seperti kita tahu, mayoritas pemakai milis memanfaatkan Yahoogroups. Berdasarkan analisa Onno W.Purbo, praktisi IT kondang, tahun 2001 saja di Yahoogroups tercatat jumlah milis asal Indonesia ada sekitar 49.000. Angka itu kemungkinan membengkak dua kali lipat hari ini mengingat perkembangan Internet begitu pesat. Bisa dibayangkan berapa juta bahkan miliar transaksi bandwidth terjadi setiap kali semua anggota milis mengeklik Yahoogroups secara bersamaan. Untuk menyiasatinya, mau tak mau harus diciptakan fasilitas milis dalam negeri. Sebenarnya kita sudah punya provider penyedia milis lokal, yakni Groups.or.id. provider yang dibangun secara kerjasama ini melibatkan sejumlah perusahaan sebagai donatur. Pada halaman depan situsnya, Anda akan menemukan sejumlah penjelasan teknis mengenai cara-cara memanfaatkan layanan ini; mulai dari membuat milis, migrasi dari Yahoo! Groups, setting milis via email, dan sebagainya.

Dilihat dari content-nya, situs ini masih difokuskan bagi para netter yang ingin membuat milis bukan peserta milis. Jumlah milis yang tersedia pun masih sangat terbatas. Ini bisa dimaklumi, mengingat berdirinya situs ini pun masih tergolong baru. Karena itu, kekurangan di sana sini yang masih banyak ditemukan pun agaknya harus dimaklumi. Termasuk di antaranya adalah belum tersedianya manual dalam bahasa Indonesia.
Semangat para pembuat provider ini patut diacungi jempol, namun sayang layanan yang ditawarkan masih kurang memuaskan. Untuk bersaing dengan Yahoogroups misalnya, Groups.or.id masih jauh tertinggal. Provider ini belum memiliki kemampuan menghadirkan homepage khusus bagi suatu milis yang dilengkapi dengan fasilitas upload foto, file, database dan banyak lagi. Metode pengiriman postingan bagi peserta milis pun hanya terbatas pada kiriman ke email yang bersangkutan. “Itulah yang saya sebut sebagai kurang reliable. Servisnya setengah-setengah, sekadar program nasionalisme saja,” komentar Sony.(SH/merry magdalena)